Kebuntuan Diplomasi: Iran Tuding Tuntutan Berlebihan Amerika Serikat Jadi Biang Kegagalan Perundingan Damai
Senin, 27 Apr 2026 17:04 WIB
Kabarmalam.com — Upaya mengakhiri ketegangan yang telah berkecamuk sejak Februari lalu kini menemui jalan buntu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat (AS), menyebut Washington sebagai pihak yang memicu kegagalan serangkaian perundingan damai yang tengah berjalan.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Araghchi sesaat setelah mendarat di Saint Petersburg, Rusia, pada Senin (27/4/2026). Kunjungannya ke Negeri Beruang Merah ini merupakan bagian dari safari diplomatik kilat yang dilakukan Teheran guna mencari dukungan di tengah kebuntuan komunikasi dengan pihak Gedung Putih.
Sikap Keras di Saint Petersburg
Menurut Araghchi, meski sebelumnya sempat ada titik terang dalam proses negosiasi, sikap Amerika yang tidak fleksibel telah merusak momentum tersebut. “Pendekatan yang diambil Amerika Serikat menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya gagal mencapai target, meskipun sempat ada kemajuan. Hal ini terjadi karena mereka mengajukan tuntutan yang sangat berlebihan,” tegas Araghchi di hadapan awak media di Saint Petersburg.
Di kota tersebut, sang diplomat senior dijadwalkan akan melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Langkah strategis ini diambil setelah Araghchi merampungkan kunjungan singkatnya ke Pakistan dan Oman, dua negara yang selama ini berperan aktif sebagai mediator konflik antara Teheran dan Washington.
Pembatalan Kunjungan dan Diplomasi Jalur Belakang
Sebagaimana diketahui, Islamabad sempat menjadi tuan rumah untuk putaran pertama perundingan damai antara Iran dan AS. Namun, harapan akan adanya babak baru negosiasi sempat pupus setelah Presiden AS, Donald Trump, secara mendadak membatalkan rencana pengiriman utusan khususnya, Steve Witkoff, serta penasihat senior sekaligus menantunya, Jared Kushner, ke Pakistan.
Pembatalan ini dipicu oleh sikap tegas Teheran yang menolak melakukan pembicaraan langsung dengan Washington. Pihak Iran lebih memilih untuk menyampaikan poin-poin keberatan mereka melalui perantara Pakistan. Selama kunjungannya di Pakistan akhir pekan lalu, Araghchi juga telah menjalin komunikasi intensif dengan jajaran pejabat tinggi, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif, untuk membahas stabilitas wilayah.
Garis Merah dan Isu Selat Hormuz
Di sisi lain, Donald Trump melalui wawancara dengan Fox News menyatakan bahwa pintu dialog masih terbuka, asalkan Iran memenuhi syarat utama. “Mereka tahu apa yang seharusnya ada dalam perjanjian. Sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Jika tidak demikian, tidak ada alasan bagi kami untuk bertemu,” ujar Trump dengan nada lugas.
Meski komunikasi formal tampak membeku, laporan dari kantor berita Fars mengindikasikan bahwa diplomasi internasional lewat ‘jalur belakang’ masih terus berdenyut. Iran dikabarkan telah mengirimkan pesan tertulis kepada AS melalui mediator Pakistan. Pesan tersebut merinci ‘garis merah’ Iran, yang mencakup persoalan nuklir hingga kedaulatan di kawasan strategis Selat Hormuz.
Laporan media Amerika, Axios, menambah dimensi baru dalam konflik ini. Mengutip sumber internal, Iran dilaporkan telah mengajukan proposal baru yang memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut oleh AS sebagai langkah awal rekonsiliasi. Dalam proposal tersebut, Teheran mengusulkan agar negosiasi mengenai program nuklir ditunda ke tahap selanjutnya demi mencapai kesepakatan de-eskalasi yang lebih segera.