Ikuti Kami
kabarmalam.com

Fenomena Migrasi 2025: Uni Eropa Catat Rekor 64 Juta Penduduk Kelahiran Asing

Husnul | kabarmalam.com
Kamis, 23 Apr 2026 16:35 WIB
Fenomena Migrasi 2025: Uni Eropa Catat Rekor 64 Juta Penduduk Kelahiran Asing

Kabarmalam.com — Wajah demografi Benua Biru tengah mengalami transformasi besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Pusat Penelitian dan Analisis Migrasi RFBerlin bulan ini, jumlah penduduk di kawasan Uni Eropa (UE) yang lahir di luar negeri telah menyentuh angka fantastis, yakni 64,2 juta jiwa pada tahun 2025. Angka ini menandai rekor tertinggi sepanjang sejarah modern kawasan tersebut.

Jika menilik ke belakang, dinamika ini menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat progresif. Pada tahun 2010, jumlah imigran di UE tercatat berada di angka 40 juta jiwa. Namun, hanya dalam kurun waktu satu setengah dekade, angka tersebut melonjak tajam, terutama dipicu oleh penambahan sekitar 2,1 juta orang sepanjang tahun 2024 saja. Analisis mendalam ini disusun berdasarkan integrasi data dari dua otoritas besar, yakni Eurostat dan Badan Pengungsi PBB (UNHCR).

Baca Juga  Gencatan Senjata Goyah, Gempuran Israel di Lebanon Tewaskan 10 Orang dalam Sehari

Jerman: Magnet Utama dan ‘Rumah Kedua’ Terbesar

Hingga saat ini, Jerman masih mempertahankan statusnya sebagai destinasi primadona bagi para pendatang. Populasi imigran di negara ekonomi terkuat Eropa tersebut kini hampir menyentuh angka 18 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan data satu dekade lalu yang hanya berjumlah 10 juta, Jerman mencatat kenaikan populasi kelahiran asing sebesar 70%.

Menariknya, laporan tersebut mengungkap bahwa sekitar 21,2% dari total penduduk Jerman adalah imigran. Dari jumlah tersebut, sebanyak 72% berada dalam usia produktif, yang secara langsung memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar tenaga kerja di sana. Meski Jerman juga menjadi penampung pengungsi terbesar dengan jumlah 2,7 juta jiwa, pertumbuhan tahunan jumlah imigrannya (1,7%) sebenarnya masih di bawah rata-rata pertumbuhan Uni Eropa yang berada di angka 3,4%.

Akselerasi di Spanyol dan Kontradiksi di Negara Kecil

Di sisi lain, Spanyol muncul sebagai negara dengan laju pertumbuhan penduduk asing tercepat dalam beberapa waktu terakhir. Pada tahun 2024, Spanyol menyambut 700.000 jiwa baru, sehingga total penduduk kelahiran luar negeri di sana mencapai 9,5 juta orang. Lonjakan sebesar 8% ini merupakan dua kali lipat lebih dari rata-rata pertumbuhan di negara-negara anggota UE lainnya.

Baca Juga  Akhir Pelarian Begal Sadis yang Incar Petugas Damkar di Gambir, 5 Pelaku Diringkus di Apartemen

Namun, jika berbicara soal persentase populasi, negara-negara kecil justru memegang kendali. Luksemburg berada di posisi puncak di mana imigran mencakup 52% dari total populasinya—sebuah angka yang sangat kontras dengan rata-rata Uni Eropa yang hanya 14%. Posisi berikutnya diikuti oleh:

  • Malta dengan proporsi imigran sebesar 32%
  • Siprus dengan angka 28%
  • Irlandia dan Austria yang masing-masing mencatat sekitar 23%

Sebaliknya, negara-negara seperti Lituania, Hongaria, dan Rumania masih memiliki porsi imigran di bawah 10%. Bahkan, Slovakia, Bulgaria, dan Polandia mencatatkan tingkat terendah dengan angka di bawah 5%.

Tren Penurunan Permohonan Suaka

Meskipun angka total imigran mencapai rekor, terdapat anomali pada sektor pencari suaka. Pada tahun 2025, total permohonan suaka di Uni Eropa tercatat sebanyak 669.365 aplikasi, yang berarti turun sekitar 26,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Empat negara utama—Spanyol, Italia, Prancis, dan Jerman—masih menjadi tujuan bagi 75% dari total pemohon suaka tersebut.

Baca Juga  Strategi Baru Mendag! Amankan Jalur Ekspor ke Uni Eropa dari Ancaman Krisis Logistik

Dari kacamata proporsionalitas, Siprus menjadi negara dengan beban pengungsi tertinggi, yakni mencapai 4,8% dari total penduduknya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Jerman yang berada di level 3,2%. Sementara itu, Italia justru mencatatkan angka yang relatif sangat kecil, dengan porsi pengungsi hanya 0,5% dari total populasinya. Fenomena ini menunjukkan bahwa distribusi pendatang di Eropa masih belum merata dan sangat bergantung pada kebijakan serta daya tarik ekonomi masing-masing negara anggota.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul