Kisah Haru di Balik Sekolah Rakyat: Mensos Temukan Puluhan Anak Jalanan Sedang Ngamen untuk Bertahan Hidup
Rabu, 22 Apr 2026 21:04 WIB
Kabarmalam.com — Wajah kusam berbalut peluh di tengah hiruk-pikuk aspal Jakarta bukan lagi sekadar pemandangan biasa bagi tim Kementerian Sosial. Dalam sebuah upaya ‘jemput bola’ yang menyentuh hati, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengungkap sebuah fakta pilu mengenai potret pendidikan di ibu kota. Sebanyak 29 calon siswa Sekolah Rakyat ditemukan sedang mengais rezeki di jalanan saat tim melakukan proses penjangkauan.
Kisah ini terungkap saat Gus Ipul menyambangi kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026). Dari total 77 anak yang diundang untuk mendapatkan akses pendidikan layak, hampir sepertiganya ditemukan dalam kondisi memprihatinkan di titik-titik kemacetan Jakarta.
Bukan di Kelas, Tapi di Lampu Merah
“Dari 77 anak yang kita undang, 29 di antaranya kami temukan langsung di jalanan. Mereka sedang mengamen, membantu orang tua mereka bekerja mencari nafkah,” tutur Gus Ipul dengan nada prihatin. Temuan ini menjadi bukti nyata bahwa masih banyak anak-anak usia sekolah yang hak dasarnya terenggut oleh tuntutan ekonomi keluarga.
Gus Ipul menjelaskan bahwa para calon siswa ini merupakan anak-anak yang selama ini tidak tersentuh oleh sistem pendidikan formal, baik karena memang belum pernah mengecap bangku sekolah maupun mereka yang terpaksa putus sekolah di tengah jalan. Strategi yang digunakan pun bukan sekadar menunggu pendaftaran, melainkan terjun langsung ke lapangan secara proaktif.
Sistem Penjangkauan: Mengetuk Pintu Hati di Perempatan Jalan
Berbeda dengan institusi pendidikan pada umumnya, Sekolah Rakyat menerapkan sistem rekrutmen yang unik. Tidak ada pendaftaran terbuka yang kaku. Sebaliknya, tim dari kementerian menyisir lokasi-lokasi marjinal mulai dari perempatan jalan, pasar, hingga kolong jembatan.
“Kita datangi titik-titik tertentu di mana terlihat ada anak-anak yang semestinya berada di sekolah, namun justru berada di jalanan,” tambahnya. Setelah ditemukan, proses tidak berhenti di situ. Tim akan melakukan pendataan mendalam, verifikasi data, hingga melakukan pendekatan persuasif kepada orang tua atau wali mereka.
Persetujuan orang tua menjadi kunci utama dalam langkah ini. “Jika orang tua memberikan lampu hijau, barulah kita tindak lanjuti untuk meresmikan status mereka sebagai siswa Sekolah Rakyat,” jelasnya lagi.
Integrasi Data dan Jaminan Kesejahteraan
Selain penjangkauan fisik, Kementerian Sosial juga memanfaatkan Basis Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Data ini menjadi peta jalan bagi pemerintah untuk mengidentifikasi anak-anak dari keluarga rentan yang memiliki risiko tinggi putus sekolah.
Program Sekolah Rakyat bukan hanya tentang memberikan buku dan pensil. Gus Ipul menegaskan bahwa negara hadir secara holistik. Setiap siswa yang terjaring akan dijamin kebutuhan dasarnya secara penuh, mencakup:
- Tempat tinggal yang layak dan aman.
- Asupan makanan bergizi untuk menunjang tumbuh kembang.
- Layanan kesehatan yang memadai.
- Kurikulum pendidikan yang adaptif terhadap latar belakang mereka.
Langkah progresif ini merupakan wujud nyata dari atensi Presiden agar tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal. Dengan menjangkau mereka yang terpinggirkan, pemerintah berharap dapat memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan yang inklusif dan manusiawi.