Perkuat Beranda Negara, Mendagri Tito Karnavian Siapkan 15.000 Unit Rumah Layak di Perbatasan
Selasa, 14 Apr 2026 19:04 WIB
Kabarmalam.com — Wajah wilayah pinggiran Indonesia kini tengah bersiap menyongsong transformasi besar melalui pembangunan hunian yang lebih manusiawi. Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), menegaskan komitmen pemerintah dalam menata infrastruktur sosial di kawasan perbatasan tanah air.
Dalam pertemuan strategis bersama Sekretaris BNPP Makhruzi Rahman di Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Tito memberikan instruksi khusus terkait implementasi program renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Langkah ini merupakan sinergi nyata antara BNPP dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) untuk memastikan masyarakat di beranda terdepan republik mendapatkan hunian yang bermartabat.
Peningkatan Kuota Menjadi 15.000 Unit
Tito mengungkapkan bahwa kuota perbaikan hunian di wilayah perbatasan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan rencana awal. Hal ini menunjukkan atensi besar pemerintah pusat terhadap pemerataan pembangunan nasional.
“Menteri PKP, Pak Ara, sudah menyampaikan bahwa jumlahnya kini menjadi 15.000 unit, dari yang sebelumnya direncanakan 10.000 unit. Saya meminta jajaran BNPP untuk benar-benar menangkap peluang ini. Kerjakanlah tugas ini dengan hati, karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat kita di perbatasan,” tegas Tito.
Eks Kapolri tersebut juga menekankan pentingnya akurasi dalam penyaluran program perumahan ini. Ia menginstruksikan BNPP untuk segera memetakan daerah mana saja yang paling mendesak untuk mendapatkan bantuan, termasuk menentukan detail jumlah unit di setiap titik lokasi pembangunan.
Akurasi Data Jadi Kunci Keberhasilan
Untuk memastikan program ini tepat sasaran, Tito mewajibkan adanya koordinasi intensif dengan Badan Pusat Statistik (BPS). Penggunaan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dianggap krusial agar bantuan fisik tersebut benar-benar jatuh ke tangan masyarakat yang paling membutuhkan.
“BPS memiliki data komprehensif mengenai kondisi ekonomi dan kondisi rumah tinggal masyarakat. Dengan data tersebut, kita bisa meminimalkan risiko salah sasaran,” jelasnya.
Membangun Nasionalisme Melalui Kesejahteraan
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, Tito meyakini bahwa renovasi rumah di perbatasan memiliki dimensi ideologis yang kuat. Baginya, peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah cara paling efektif untuk memperkokoh rasa cinta tanah air di wilayah-wilayah sensitif.
“Masyarakat perbatasan adalah garda terdepan kita. Jika mereka merasa diperhatikan oleh negara, rasa nasionalisme mereka akan tumbuh semakin kuat. Kehadiran hunian yang layak akan menjadikan kawasan tersebut sebagai buffer zone atau zona penyangga yang kokoh bagi pertahanan negara,” pungkas Tito dengan optimis.