Gebrakan Ekonomi Kerakyatan: DPRD Surabaya Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Ujung Tombak Pasar Murah
Senin, 13 Apr 2026 20:11 WIB
Kabarmalam.com — Langkah strategis guna memperkuat fondasi ekonomi di Kota Pahlawan kini tengah menjadi sorotan hangat. Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Bahtiyar Rifai, menyuarakan visi besar untuk mentransformasi peran Koperasi Merah Putih agar menjadi garda terdepan dalam pendistribusian bahan pokok di setiap sudut kelurahan.
Sinergi Koperasi dan Program Pemerintah
Usulan ini lahir dari keinginan untuk mengoptimalkan program pasar murah yang rutin diselenggarakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Bahtiyar menilai, keberadaan Koperasi Merah Putih yang secara struktural sudah tersebar di hampir seluruh wilayah kelurahan merupakan aset besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Selama ini, Pemkot Surabaya telah menunjukkan komitmen luar biasa melalui berbagai agenda pasar murah. Namun, efektivitas dan jangkauannya akan jauh lebih dahsyat jika kita melibatkan Koperasi Merah Putih sebagai mitra distribusi utama,” ungkap Bahtiyar dalam pernyataan resminya.
Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Komunitas
Bukan sekadar soal teknis distribusi sembako seperti beras, minyak goreng, atau daging, langkah ini dipandang sebagai upaya konkret dalam menghidupkan kembali ekonomi kerakyatan. Dengan melibatkan koperasi, perputaran uang tetap berada di lingkup masyarakat lokal, sekaligus memperkuat daya beli warga di tingkat akar rumput.
Bahtiyar menekankan bahwa koperasi seharusnya menjadi jembatan penghubung yang kokoh antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan riil masyarakat bawah. Semangatnya adalah menjadikan koperasi sebagai solusi nyata di tengah fluktuasi harga pangan.
Menghadapi Tantangan Internal Koperasi
Meski memiliki potensi yang menggiurkan, Bahtiyar tidak menutup mata terhadap realita di lapangan. Ia mengakui bahwa tidak sedikit Koperasi Merah Putih yang saat ini masih ‘mati suri’ atau berjalan kurang optimal. Beberapa kendala yang diidentifikasi meliputi:
- Keterbatasan alokasi anggaran operasional.
- Rendahnya tingkat partisipasi aktif dari para anggota.
- Ketidakjelasan arah pengelolaan dan manajemen organisasi.
“Kondisi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus ada pendampingan intensif dan kolaborasi lintas sektor agar koperasi-koperasi ini benar-benar bisa berdaya dan aktif kembali,” tegas legislator dari Fraksi Gerindra tersebut.
Membangun Ekosistem Kolaborasi
Sebagai solusi jangka pendek dan menengah, Bahtiyar mendorong instansi terkait, khususnya Dinas Koperasi dan Perdagangan, untuk lebih proaktif. Ia menyarankan pembentukan forum komunikasi rutin atau ‘rembuk bersama’ antara birokrasi dan para pengurus koperasi sebelum eksekusi pasar murah dilakukan.
Dengan pola duduk bersama ini, penyaluran bantuan atau komoditas pangan murah bisa disesuaikan dengan profil kebutuhan masing-masing wilayah. Bahtiyar optimis, jika kolaborasi ini berjalan mulus, Koperasi Merah Putih akan bertransformasi dari sekadar pelengkap administrasi menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan di Surabaya.