Surabaya Pimpin Gerakan Nasional Cegah Sampah Plastik Menuju Laut, Jadi Role Model Ekonomi Sirkular
Kamis, 11 Jun 2026 19:04 WIB
Kabarmalam.com — Kota Surabaya kembali mengukuhkan posisinya sebagai pionir pelestarian lingkungan di level nasional. Melalui inisiatif bertajuk “Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution”, Kota Pahlawan ini resmi menjadi lokasi perdana kolaborasi bilateral antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), dan UNDP Indonesia. Program ambisius ini dirancang khusus untuk memutus rantai pencemaran sampah plastik di aliran sungai sebelum akhirnya mencemari lautan luas.
Pemilihan Surabaya sebagai titik awal bukan tanpa alasan. Komitmen kuat dalam pengelolaan sampah serta rekam jejak pengendalian pencemaran lingkungan yang konsisten menjadi faktor penentu. Soft-launching program ini berdenyut selaras dengan semangat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang menandai fokus baru pada pembersihan sungai, penguatan ekonomi sirkular, hingga transformasi perilaku kolektif masyarakat.
Aksi Nyata di Arus Sungai: Dari Kali Tebu Hingga Kali Mrutu
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan pemerintah pusat. Ia memaparkan bahwa implementasi program ini bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan aksi nyata yang sudah berjalan di lapangan, khususnya di kawasan Kali Tebu dan Kali Mrutu.
“Project yang berjalan saat ini di Kali Tebu dan Kali Mrutu memberikan dampak yang luar biasa signifikan bagi ekosistem sekitar,” ujar Fikser. Di lokasi tersebut, sistem penahan sampah (trash boom) telah dipasang untuk mengadang laju sampah plastik agar tidak terhanyut ke laut.
Hasilnya cukup mencengangkan. Melalui sinergi antara DLH Surabaya dengan lembaga swadaya masyarakat (NGO) seperti Ecoton dan Lohjinawi, rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat setiap harinya. Pemerintah Kota Surabaya memberikan dukungan penuh dengan memfasilitasi lokasi kerja bagi para relawan dan memastikan edukasi warga di pinggiran sungai berjalan masif.
Mengubah Limbah Menjadi Berkah Ekonomi
Narasi besar dari program ini bukan hanya soal membersihkan sungai, melainkan menciptakan kemandirian ekonomi. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, sampah-sampah yang terangkat tidak langsung dibuang ke tempat pemrosesan akhir. Masyarakat dilibatkan secara aktif dalam proses pemilahan dan pengemasan sampah yang memiliki nilai ekonomis.
“Wali Kota Eri Cahyadi telah menginstruksikan kami untuk memberikan dukungan total. Selain menjaga kebersihan, ada nilai tambah bagi warga sekitar yang terlibat dalam pemilahan sampah, sehingga mereka mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung,” tambah Fikser.
Perubahan visual pun kini tampak di Kali Tebu. Kawasan yang dulunya kumuh oleh tumpukan sampah plastik, kini terlihat jauh lebih asri. Transformasi ini secara perlahan menumbuhkan rasa malu bagi oknum warga yang berniat membuang sampah sembarangan.
Target Ambisius: Pengurangan Sampah Hingga 40 Persen
Meski volume sampah yang tertahan masih berada di angka satu ton per hari, Fikser optimis angka tersebut akan terus menurun seiring meningkatnya kesadaran warga dari tingkat rumah tangga. Strategi utama tetap berfokus pada sisi hulu untuk menekan timbulan sampah sejak dari sumbernya.
Dalam skala yang lebih luas, Surabaya memproduksi sekitar 1.800 ton sampah per hari. Dari total tersebut, sekitar 200 ton telah terkelola melalui skema TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan 1.000 ton lainnya diproses menjadi energi di Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo. Untuk menangani sisa sampah yang ada, pemerintah pusat telah menunjuk Surabaya sebagai lokasi pengembangan fasilitas Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di lahan seluas 5,8 hektare di Sumber Rejo, Kecamatan Pakal.
“Target dari Pak Wali Kota sangat jelas, kita harus mampu menekan angka sampah hingga 40 persen,” tegas Fikser.
Sinergi Nasional untuk Lingkungan Berkelanjutan
Sri Murwani Nurfadilastuti dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menekankan bahwa kunci keberlanjutan program ini terletak pada perubahan perilaku masyarakat. Ia mendorong agar setiap individu mulai membatasi penggunaan plastik dan disiplin memilah sampah sejak dari rumah.
Senada dengan hal itu, Ahmad Bahri Rambe dari Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) menyatakan bahwa program ini bersifat komprehensif, mencakup pengelolaan sampah anorganik maupun organik agar memiliki nilai guna kembali.
Surabaya kini berdiri sebagai mercusuar bagi empat wilayah lainnya dalam program ini, yaitu Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali. Dengan keberhasilan di Kota Surabaya, diharapkan model pengelolaan sampah sungai yang terintegrasi ini dapat direplikasi secara nasional demi mewujudkan Indonesia yang lebih bersih dan bebas dari ancaman sampah plastik.