Waspada Gejala Langka, Tubuh Wanita Ini Dipenuhi Ruam Mirip Bekas Cambukan Usai Santap Jamur Shiitake
Selasa, 02 Jun 2026 07:34 WIB
Kabarmalam.com — Dunia medis seringkali menyuguhkan fenomena yang tak terduga, bahkan terkadang mengerikan bagi mereka yang mengalaminya. Seorang wanita berusia 23 tahun asal Florida, Amerika Serikat, baru-baru ini menjadi pusat perhatian setelah dilarikan ke ruang gawat darurat dengan kondisi fisik yang mengkhawatirkan. Punggung ibu muda yang tengah menyusui ini dipenuhi ruam merah memanjang, membentuk pola garis-garis aneh yang sekilas tampak seperti luka akibat sabetan cambuk yang brutal.
Kronologi Munculnya Ruam Misterius
Kisah yang sempat membuat tim medis mengerutkan dahi ini bermula ketika pasien merasakan gatal luar biasa yang diikuti munculnya bercak peradangan kecil di punggung atas. Berharap kondisi tersebut segera mereda, ia sempat mencari bantuan di klinik darurat dan mendapatkan resep obat steroid serta antihistamin. Namun, alih-alih sembuh, kondisi kesehatan kulit wanita tersebut justru memburuk secara dramatis.
Hanya dalam hitungan jam, bercak kecil tersebut menyebar ke area punggung bawah dan bertransformasi menjadi garis-garis merah yang tidak beraturan. Pola tersebut sangat spesifik, menyerupai bekas luka fisik yang ditinggalkan oleh pecutan. Tim dokter segera melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mendeteksi kemungkinan adanya reaksi alergi parah, gangguan pernapasan, hingga potensi penyakit meningitis. Meski suhu tubuhnya sedikit meningkat di angka 37,3°C, seluruh tanda vital lainnya menunjukkan kondisi yang normal.
Mengenal Shiitake Dermatitis: Fenomena Langka yang Terabaikan
Titik terang mulai muncul saat dokter menggali lebih dalam mengenai riwayat konsumsi makanannya. Wanita tersebut mengaku telah menyantap hidangan yang mengandung jamur shiitake satu hari sebelum gejala menyeramkan itu muncul. Berdasarkan petunjuk krusial ini, tim medis akhirnya menegakkan diagnosis Shiitake Dermatitis, atau yang secara ilmiah sering disebut sebagai Flagellate Dermatitis (Dermatitis Bendera).
Istilah ini memiliki latar belakang sejarah yang unik. Nama ‘Flagellate’ pertama kali diperkenalkan oleh peneliti Jepang, Takehiko Nakamura pada tahun 1977. Nama ini terinspirasi dari kaum Flagel di abad pertengahan—sebuah kelompok religius yang melakukan aksi mencambuk diri sendiri sebagai simbol penebusan dosa dan demonstrasi iman.
Penyebab dan Cara Penanganannya
Secara medis, kondisi ini dipicu oleh senyawa lentinan yang terkandung di dalam jamur shiitake. Bagi individu yang memiliki sensitivitas tinggi, lentinan dapat merangsang tubuh melepaskan protein peradangan seperti interleukin-1 dan sitokin secara masif. Akibatnya, manifestasi fisik berupa ruam linear atau pola cambukan muncul di permukaan kulit. Menariknya, fenomena ini biasanya hanya terjadi apabila jamur dikonsumsi dalam keadaan mentah atau kurang matang sempurna.
Bagi para ibu yang khawatir, tim dokter menegaskan bahwa kondisi ini tidak memengaruhi kualitas ASI, sehingga aktivitas menyusui tetap dapat dilakukan dengan aman. Pasien kemudian diberikan perawatan intensif menggunakan krim hidrokortison topikal, klotrimasol, dan antihistamin oral. Beruntung, setelah tiga minggu menjalani pengobatan, ruam yang menyerupai bekas cambukan tersebut menghilang sepenuhnya tanpa meninggalkan bekas luka.
Meski jamur shiitake sangat populer dalam berbagai masakan dunia, kasus gejala penyakit dermatitis jenis ini sebenarnya tergolong sangat langka. Hingga saat ini, baru ada sekitar 100 kasus yang tercatat secara resmi dalam literatur ilmiah global, dengan mayoritas laporan berasal dari wilayah Asia. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi kita untuk selalu memastikan bahan makanan yang kita konsumsi, terutama jamur, telah dimasak dengan tingkat kematangan yang tepat.