Bukan Sekadar Genetik, Ini Alasan Mengapa Anak yang Sering Begadang Berisiko Tumbuh Pendek
Minggu, 31 Mei 2026 07:34 WIB
Kabarmalam.com — Memiliki buah hati yang tumbuh sehat dengan postur tubuh ideal tentu menjadi dambaan setiap orang tua. Namun, tahukah Anda bahwa tinggi badan anak tidak hanya ditentukan oleh faktor genetika semata? Ada satu kebiasaan yang sering kali dianggap remeh namun berdampak fatal pada tumbuh kembang anak, yakni pola tidur yang tidak teratur atau sering begadang.
Ancaman Begadang bagi Pertumbuhan Fisik
Spesialis anak, dr. Mulki Angela, SpA PhD, memberikan peringatan serius bagi para orang tua mengenai dampak kurang tidur pada anak. Menurutnya, anak-anak yang terbiasa tidur larut malam memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan yang menyebabkan mereka tumbuh lebih pendek dibandingkan teman sebaya mereka.
Dalam sebuah diskusi kesehatan di Tangerang Selatan, dr. Mulki menekankan pentingnya disiplin waktu tidur. “Jangan sampai anak tidur di atas jam 9 malam, terutama bagi mereka yang sudah memasuki usia sekolah,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa durasi tidur minimal untuk anak usia sekolah adalah 8 jam sehari, sehingga jam 9 malam adalah batas maksimal agar istirahat mereka optimal.
Rahasia Hormon Pertumbuhan Saat Terlelap
Mengapa jam tidur sangat krusial bagi tinggi badan? Dr. Mulki memaparkan bahwa saat anak begadang, produksi hormon pertumbuhan yang sangat dibutuhkan tubuh menjadi terganggu dan tidak aktif. Padahal, hormon ini bekerja paling maksimal saat anak sedang tidur nyenyak di malam hari.
Selain menghambat pertumbuhan fisik, kurang tidur juga memberikan efek domino pada kemampuan kognitif. Anak yang sering begadang akan cenderung sulit berkonsentrasi, mudah mengantuk, dan tidak bertenaga saat harus mengikuti pelajaran di sekolah.
Keseimbangan Nutrisi dan Pentingnya Bermain
Meski istirahat adalah faktor kunci, dr. Mulki mengingatkan bahwa pertumbuhan optimal memerlukan sinergi dari berbagai aspek. Pemenuhan nutrisi anak dengan gizi seimbang tetap menjadi fondasi utama. Porsi makan anak harus mencakup komponen lengkap mulai dari karbohidrat, protein, lemak sehat, hingga vitamin dan mineral.
Beberapa nutrisi spesifik seperti asam lemak esensial (Omega 3, Omega 6, dan DHA) juga memegang peranan penting dalam mendukung perkembangan otak. Namun, dr. Mulki memberikan catatan penting agar orang tua tidak hanya fokus pada makanan saja.
“Sering kali orang tua merasa sudah memberikan makanan bergizi, tapi heran mengapa anak tidak berkembang optimal. Ternyata, anak tersebut kurang bermain dan kurang tidur,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa selain makanan dan tidur, stimulasi anak melalui aktivitas bermain yang sesuai usia juga sangat diperlukan untuk mengasah kecerdasan dan motorik mereka.
Dengan menjaga pola tidur sebelum jam 9 malam, memberikan asupan gizi yang tepat, serta stimulasi yang cukup, orang tua dapat memastikan masa depan buah hati tumbuh secara maksimal, baik secara fisik maupun intelektual.