Haus Validasi di Balik Konten Peniru Mendiang Artis, Pakar Kesehatan Jiwa Ungkap Risiko Eksploitasi Emosi
Rabu, 08 Apr 2026 10:06 WIB
Kabarmalam.com — Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh aksi seorang kreator konten yang nekat ‘memaksa’ diri agar terlihat identik dengan salah satu sosok mendiang artis tanah air. Bukan mendapatkan simpati, langkah sang content creator tersebut justru memanen gelombang kritik tajam dari warganet yang menganggap tindakannya sudah melampaui batas etika dan empati.
Dalam berbagai unggahannya, sang kreator tampak meniru secara detail hampir seluruh aspek penampilan almarhum, mulai dari gaya rambut, pilihan busana, hingga gestur dan ekspresi wajah yang dibuat-buat agar terlihat serupa. Dengan penuh percaya diri, ia bahkan mengklaim kehadirannya bisa menjadi ‘penawar rindu’ bagi para penggemar yang merindukan sosok artis tersebut. Namun, klaim sepihak ini justru memicu keresahan, terutama bagi pihak keluarga dan sahabat dekat mendiang yang merasa tindakan tersebut hanyalah upaya mencari panggung di atas duka yang belum sepenuhnya pulih.
Dorongan Validasi Sosial di Ruang Digital
Menanggapi fenomena yang tengah viral ini, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, seorang psikiater sekaligus Anggota Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, memberikan analisis mendalam. Menurutnya, fenomena ini dapat dikategorikan sebagai perilaku imitasi atau imitative behavior yang didorong oleh motif psikologis tertentu.
“Secara umum, perilaku seperti ini didorong oleh kebutuhan mendalam akan validasi sosial dan pencarian atensi di ruang digital. Di ekosistem media sosial, respons berupa like, komentar, dan viralitas berfungsi sebagai psychological reward yang sangat kuat bagi seseorang,” ungkap dr. Lahargo dalam keterangannya kepada tim Kabarmalam.com.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya sebuah batasan moral. Dr. Lahargo mengingatkan bahwa konten yang dibuat seharusnya tidak mencederai perasaan orang lain. “Batasannya menjadi krusial ketika konten tersebut mulai menimbulkan rasa tidak nyaman, luka lama, atau rasa sakit bagi keluarga dan orang-orang terdekat almarhum,” tambahnya.
Antara Inspirasi dan Eksploitasi
Mengidolakan seorang figur publik sebenarnya adalah hal yang manusiawi dan wajar. Namun, dr. Lahargo menegaskan bahwa kekaguman tersebut harus tetap berada dalam koridor inspirasi yang sehat, tanpa harus mengaburkan identitas diri asli atau memanfaatkan momen duka demi popularitas semata.
“Batas wajar dalam mengidolakan seseorang adalah ketika rasa kagum tersebut dibarengi dengan empati, rasa hormat, dan sensitivitas terhadap keluarga yang ditinggalkan,” tegasnya secara mendalam. Ia mengkhawatirkan jika atensi lebih diutamakan daripada etika, maka yang tercipta bukan lagi sebuah bentuk apresiasi, melainkan eksploitasi emosi publik.
Mengejar Eksistensi dan Keuntungan Ekonomi
Ada berbagai faktor yang biasanya melatarbelakangi para ‘peniru’ ini untuk terus beraksi. Selain mencari pengakuan sosial dan meningkatkan eksistensi diri, terdapat motivasi untuk membangun kedekatan emosional semu dengan audiens, hingga potensi keuntungan personal dan ekonomi yang muncul saat sebuah konten menjadi viral.
Sebagai penutup, dr. Lahargo memberikan pesan reflektif bagi para pengguna media sosial dan pembuat konten. “Mengidolakan itu manusiawi, tetapi saat keinginan untuk viral mengalahkan rasa empati, maka penghormatan yang awalnya diniatkan bisa berubah menjadi bentuk eksploitasi yang tidak sehat,” pungkasnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik layar gawai, ada perasaan manusia nyata yang harus tetap dihormati, terutama mereka yang tengah menjaga memori orang tercinta dengan penuh rasa hormat.