Sarden Kalengan Bukan Produk UPF? Pakar Ingatkan Risiko Tersembunyi BPA dan Natrium Tinggi
Minggu, 24 Mei 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan oleh diskusi hangat mengenai klasifikasi pangan sarden kalengan. Kabar bahwa produk ini tidak termasuk dalam kategori Ultra Processed Food (UPF) seolah memberikan angin segar bagi para pecintanya. Namun, di balik euforia tersebut, para pakar kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam persepsi yang keliru. Status non-UPF bukan berarti sebuah produk bebas dari risiko kesehatan.
Bukan UPF, Tapi Mengapa Tetap Harus Diwaspadai?
Penilaian sehat atau tidaknya suatu bahan pangan tidak hanya bersandar pada sistem klasifikasi NOVA yang membagi makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya. Meskipun sarden kalengan sering kali dianggap lebih ‘alami’ karena hanya melalui proses pembersihan dan sterilisasi, ada faktor eksternal lain yang justru lebih mengkhawatirkan: paparan zat kimia dari kemasan dan kandungan natrium yang melimpah.
Salah satu sorotan utama jurnalis Kabarmalam.com dalam isu ini adalah ancaman Bisphenol A atau yang lebih akrab dikenal sebagai BPA. Polimer ini merupakan komponen kunci dalam pembuatan resin epoksi yang melapisi bagian dalam kaleng makanan guna mencegah korosi. Ironisnya, lapisan pelindung ini justru berpotensi menjadi bumerang bagi kesehatan konsumen.
Ancaman Migrasi BPA: Kecil Namun Berbahaya dalam Jangka Panjang
Partikel BPA memiliki sifat yang tidak stabil pada kondisi tertentu. Kerusakan fisik pada kaleng atau paparan panas ekstrem dapat memicu partikel ini lepas dari lapisan resin dan bermigrasi langsung ke dalam daging sarden. Berdasarkan riset yang diterbitkan dalam Jurnal Keteknikan Pertanian tahun 2023, meski kadar migrasi ditemukan masih di bawah ambang batas Tolerable Daily Intake (TDI) sebesar 4 μg/kgBB/hari, kekhawatiran tetap membayangi.
Praktisi kesehatan dr. Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, memberikan pandangan mendalam mengenai hal ini. Menurutnya, masalah utama terletak pada akumulasi jangka panjang. “Jika seseorang mengonsumsi makanan yang terpapar BPA secara terus-menerus, residunya bisa mengganggu metabolisme, merusak keseimbangan hormonal, bahkan dalam kasus ekstrem dapat memicu pertumbuhan sel kanker,” ungkapnya saat dihubungi tim redaksi.
Memahami Klasifikasi: Antara Processed Food dan UPF
Dr. Iflan menjelaskan bahwa sarden kalengan secara teknis lebih tepat dikategorikan sebagai processed food ketimbang UPF, selama proses produksinya hanya melibatkan pembersihan, pemanasan, dan sterilisasi. Namun, batasan ini sangat tipis dan bergantung sepenuhnya pada produsen. Jika pabrikan mulai menambahkan zat aditif seperti pengawet buatan, pewarna, atau penguat rasa yang melebihi standar RDA (Recommended Dietary Allowance), maka statusnya bisa berubah menjadi UPF yang merugikan gaya hidup sehat Anda.
Selain masalah kimia, label makanan pada sarden kalengan seringkali menunjukkan angka natrium (garam) yang sangat tinggi. Konsumsi natrium yang berlebihan secara rutin telah lama dikaitkan dengan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, kebijaksanaan dalam memilih menu harian tetap menjadi kunci utama.
Kesimpulan Bagi Konsumen
Narasi bahwa sarden kalengan bukan UPF memang valid secara teknis, namun hal itu tidak boleh membuat kita abai terhadap aspek keamanan pangan lainnya. Edukasi mengenai cara penyimpanan yang benar—seperti menghindari kaleng yang penyok dan tidak memanaskan makanan langsung di dalam kalengnya—menjadi sangat krusial.
Menjaga pola makan seimbang dengan memprioritaskan bahan pangan segar tetap menjadi rekomendasi terbaik. Jadikan produk kalengan sebagai alternatif darurat, bukan menu harian utama, demi menjaga kesehatan jangka panjang keluarga Anda.