Sate atau Opor? Simak Rekomendasi Dokter Agar Tetap Sehat Santap Daging Kurban
Rabu, 27 Mei 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Hari Raya Idul Adha senantiasa identik dengan tradisi menyantap hidangan istimewa berbahan dasar daging kurban, mulai dari sapi hingga kambing. Aroma sate yang menusuk hidung hingga gurihnya kuah gulai dan tongseng seolah menjadi pemandangan wajib di meja makan sejak pagi hingga malam hari. Namun, di balik kelezatan tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai jika kita tidak bijak dalam mengonsumsinya.
Jangan ‘Balas Dendam’ Saat Makan Daging
Menikmati sajian khas setahun sekali memang sah-sah saja, namun dr. Aru Ariyatno, SpPD-KGEH, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi Hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam pola makan “balas dendam”. Ia menekankan pentingnya kontrol diri meski persediaan daging melimpah di rumah.
“Masa dari pagi sampai malam menunya sate, gulai, tongseng, sampai rendang terus? Jangan. Cukup pagi makan mungkin sate beberapa tusuk saja,” ujar dr. Aru dalam sebuah kesempatan. Menurutnya, tubuh memiliki batasan tertentu yang harus dihormati. Ia menyarankan agar sisa porsi daging daging kurban disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing dan tidak dikonsumsi secara berlebihan atau over.
Pilih Sate atau Sup Bening Daripada Opor
Saat dihadapkan pada berbagai pilihan metode pengolahan, dr. Aru memiliki preferensi khusus yang lebih ramah bagi sistem pencernaan. Jika harus memilih antara sate atau opor yang kaya akan santan, ia secara tegas lebih menyarankan sate. Mengapa demikian? Karena metode pemanggangan dianggap lebih minim tambahan lemak jenuh dibandingkan olahan yang menggunakan kuah santan kental.
Lebih lanjut, ia memberikan alternatif yang jauh lebih sehat bagi mereka yang bosan dengan sate. “Kalau saya sih sarannya lebih baik sate. Atau kalau perlu jangan opor, tapi buatlah dalam bentuk sup bening. Itu jauh lebih baik untuk kesehatan,” jelasnya. Olahan makanan sehat seperti sup bening membantu menjaga asupan lemak tetap rendah sekaligus memberikan hidrasi bagi tubuh.
Sapi vs Kambing: Mana yang Lebih Berbahaya?
Mitos yang menyebutkan bahwa daging kambing jauh lebih berbahaya daripada daging sapi juga menjadi perhatian dr. Aru. Secara medis, ia meluruskan bahwa kedua jenis daging ini sebenarnya memiliki kandungan gizi yang hampir serupa dan sama-sama sehat jika dikonsumsi dalam batas wajar. Namun, ada satu catatan kecil bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
“Secara umum, kadar nutrisi daging sapi dan kambing itu mirip. Meski begitu, daging kambing memang memiliki kadar sodium (garam) yang sedikit lebih tinggi dibandingkan daging sapi,” ungkapnya. Hal ini menjadi krusial bagi penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi, karena asupan sodium berlebih dapat memicu lonjakan tekanan darah secara mendadak.
Tips Mengelola Kolesterol dan Asam Urat
Bagi sebagian orang, bayang-bayang lonjakan kolesterol dan asam urat sering kali merusak momen makan bersama keluarga. Sebenarnya, risiko ini bisa dikelola dengan cara mengatur porsi dan memastikan asupan serat yang cukup dari sayur-sayuran sebagai penyeimbang. Dengan mengikuti anjuran medis dan menjaga pola makan yang seimbang, momen Idul Adha dapat tetap dinikmati dengan penuh sukacita tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang.