Ikuti Kami
kabarmalam.com

Jembatan Budaya dari Perth: Menelisik Hangatnya Persahabatan Indonesia-Australia di SD Bertram

Husnul | kabarmalam.com
Sabtu, 23 Mei 2026 19:34 WIB
Jembatan Budaya dari Perth: Menelisik Hangatnya Persahabatan Indonesia-Australia di SD Bertram

Kabarmalam.com — Di sebuah sudut selatan kota Perth, Australia Barat, tepatnya di SD Bertram, gema suara anak-anak melafalkan angka satu hingga sepuluh terdengar begitu akrab di telinga. Namun, ini bukan di Jakarta atau Bandung, melainkan di sebuah sekolah yang berjarak ribuan kilometer dari tanah air. Di sini, bahasa Indonesia bukan sekadar mata pelajaran, melainkan jembatan emosional yang merajut persahabatan dua negara tetangga sejak usia dini.

Tim redaksi yang berkesempatan mengunjungi sekolah ini dalam rangkaian program Australia-Indonesia Senior Editors menyaksikan langsung betapa antusiasnya para siswa. Tak hanya fasih berhitung, sapaan hangat seperti “Selamat pagi” dan “Apa kabar?” mengalir natural dari bibir mereka. Salah satu siswi bernama Mia, dengan mata berbinar, bahkan memamerkan perbendaharaan katanya. “Saya juga tahu beberapa kata, seperti api, angin, dan baik-baik saja,” ujarnya bangga.

Sosok di Balik Layar: Vincent Sweetman

Semangat anak-anak Bertram tidak muncul begitu saja. Ada sosok Vincent Sweetman, guru bahasa Indonesia yang memiliki keterikatan batin yang kuat dengan Nusantara. Vincent bukan orang baru dalam dunia pendidikan kita; ia pernah menghabiskan lebih dari empat tahun mengajar di berbagai sekolah di Jakarta sebelum akhirnya berlabuh di SD Bertram selama empat tahun terakhir.

Baca Juga  Jaga Generasi dari Jerat Narkoba, Pemuda Muhammadiyah Dukung Penuh Usulan BNN Larang Vape

Bagi Vincent, mengajarkan bahasa adalah tentang membangun pemahaman budaya yang mendalam. “Di masa depan, pemahaman para siswa akan Indonesia, dan begitu juga sebaliknya, akan semakin mempererat persahabatan antara mereka,” ungkapnya. Ia meyakini bahwa penguasaan bahasa asing adalah kunci untuk mengasah cara berpikir kritis sekaligus membentuk karakter warga dunia yang menghargai keberagaman.

Mengapa Bahasa Indonesia Begitu Relevan di Australia Barat?

Vincent memaparkan tiga alasan fundamental mengapa sekolah-sekolah di Australia Barat, khususnya SD Bertram, menjadikan bahasa Indonesia sebagai fokus utama:

  • Kedekatan Geografis dan Wisata: Lokasi Perth yang dekat dengan Indonesia menjadikan Bali sebagai destinasi liburan favorit keluarga setempat. Hal ini membuat belajar bahasa Indonesia terasa sangat relevan dan aplikatif bagi para siswa.
  • Kekuatan Ekonomi Masa Depan: Indonesia dipandang sebagai raksasa ekonomi regional yang terus tumbuh. Kemampuan berbahasa Indonesia dianggap sebagai investasi strategis untuk peluang karier di bidang diplomasi, pendidikan, hingga bisnis global.
  • Kemudahan Linguistik: Penggunaan abjad Latin dalam bahasa Indonesia sangat memudahkan anak-anak Australia dalam proses membaca dan menulis, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam belajar.
Baca Juga  Ketegangan di Mediterania: Relawan WNI Ungkap Detik-Detik Dramatis Lolos dari Kepungan Kapal Perang Israel

Kolaborasi Tanpa Batas melalui Program BRIDGE

Persahabatan ini semakin nyata melalui kemitraan dengan SDN 023 Pajagalan di Kota Bandung. Melalui inisiatif Kemitraan Sekolah BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) yang digagas oleh Pemerintah Australia dan Asialink Business sejak 2008, kedua sekolah ini telah menjalin hubungan erat selama lebih dari satu dekade.

Bentuk kolaborasinya pun sangat beragam, mulai dari pertukaran guru, perayaan Hari Kemerdekaan RI di Australia, hingga kelas memasak hidangan khas Nusantara. Untuk periode 2026-2027, kedua sekolah telah menyiapkan enam aksi nyata yang inovatif:

  1. Konten Kreatif Bilingual: Pembuatan video dalam dua bahasa yang membahas isu-isu global seperti krisis iklim dan inklusi sosial.
  2. Diplomasi Permainan Tradisional: Saling memperkenalkan permainan khas masing-masing negara melalui media digital.
  3. Gerakan Peduli Lingkungan: Kolaborasi dalam pengumpulan dan pengolahan sampah yang datanya dibandingkan secara bersama.
  4. Pertukaran Karya Seni: Pengiriman simbol persahabatan berupa kerajinan tangan hasil karya siswa.
  5. Studi Banding Inklusif: Kelanjutan kunjungan guru untuk berbagi wawasan mengenai pendidikan inklusif melalui olahraga.
  6. Praktik Budaya Interaktif: Merekam keseruan saat siswa mempraktikkan budaya yang telah diajarkan oleh sekolah mitra.
Baca Juga  Skandal Korupsi Chromebook: Hakim Ungkap Kerugian Negara Fantastis Rp 5,2 Triliun, Ibam Divonis 4 Tahun

Meski durasi pelajaran di kelas terbatas, Vincent merasa terbantu dengan dukungan penuh dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan komunitas sekitar. Baginya, ruang kelas di SD Bertram adalah tempat di mana benih-benih perdamaian disemai. Kelak, saat anak-anak ini dewasa, mereka tidak akan melihat samudra sebagai pemisah, melainkan sebagai jalan penghubung bagi kerja sama yang lebih harmonis antara Indonesia dan Australia.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul