Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada Namun Tetap Tenang: Memahami Perbedaan Fundamental Hantavirus dan Covid-19

Husnul | kabarmalam.com
Selasa, 12 Mei 2026 14:04 WIB
Waspada Namun Tetap Tenang: Memahami Perbedaan Fundamental Hantavirus dan Covid-19

Kabarmalam.com — Bayang-bayang kelam pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan dunia tampaknya masih menyisakan trauma mendalam di benak publik. Tak heran jika belakangan ini, kabar mengenai penyebaran hantavirus di atas kapal pesiar internasional MV Hondius memicu gelombang kekhawatiran baru. Namun, sebelum kepanikan meluas, jurnalisme berbasis data perlu menjernihkan perbedaan mendasar antara kedua virus ini agar masyarakat tidak terjebak dalam ketakutan yang tidak berdasar.

Lonceng Peringatan dari MV Hondius

Kapal pesiar MV Hondius menjadi pusat perhatian dunia setelah dilaporkan adanya klaster infeksi hantavirus yang merenggut sedikitnya tiga nyawa antara April hingga Mei 2026. Kapal yang akhirnya bersandar di Pelabuhan Granadilla, Tenerife, Spanyol ini, membawa 147 awak dan penumpang yang kini telah dipulangkan ke negara masing-masing seperti Jerman, Prancis, dan Australia dengan pengawasan ketat.

Baca Juga  Waspada Ancaman Hantavirus, Kemenkes Siagakan 198 Rumah Sakit di Seluruh Indonesia guna Cegah KLB

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengakui beban psikologis yang dirasakan warga Tenerife. Dalam sebuah surat emosional, ia menyatakan memahami munculnya kembali memori buruk saat mendengar kata wabah dan melihat kapal yang membawa ancaman kesehatan mendekat ke daratan.

Mengapa Hantavirus Berbeda dengan Corona?

Meskipun sama-sama menyerang sistem pernapasan, hantavirus—khususnya varian virus Andes yang ditemukan di MV Hondius—memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan SARS-CoV-2. Roman Wölfel, pakar dari Institut Mikrobiologi Bundeswehr, menegaskan bahwa penularan hantavirus dari manusia ke manusia jauh lebih sulit terjadi dan memerlukan kontak yang sangat dekat.

Perbedaan mencolok lainnya terletak pada sejarah penemuan. Jika Covid-19 adalah ancaman baru yang muncul mendadak pada akhir 2019, hantavirus sudah dipelajari secara medis sejak tahun 1993. Pengetahuan yang matang mengenai virus ini memungkinkan otoritas kesehatan untuk bertindak lebih cepat dalam mengidentifikasi gejala Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan segera menerapkan langkah jaga jarak yang efektif.

Baca Juga  Drama Hantavirus di MV Hondius: WHO Tegaskan Penularan Tak Secepat COVID-19

Belajar dari Kasus Argentina

Sejarah mencatat bahwa pengendalian hantavirus jauh lebih terukur dibandingkan Covid-19 yang liar. Analisis terhadap wabah di Argentina pada periode 2018-2019 menunjukkan bahwa isolasi mandiri dan karantina kontak erat mampu memangkas angka reproduksi virus secara drastis, dari 2,12 menjadi hanya 0,96. Artinya, dengan intervensi protokol kesehatan yang tepat, penyebaran virus ini dapat dihentikan sebelum menjadi krisis global.

Di MV Hondius, meski sempat ada jeda waktu dalam konfirmasi laboratorium, prosedur evakuasi dilakukan dengan standar keamanan tinggi. Penumpang dan petugas menggunakan masker pelindung FFP2 dan seluruh barang pribadi ditempatkan dalam kantong kedap udara guna meminimalisir risiko sekecil apa pun.

Baca Juga  Gema Waisak 2026: Kemayoran Bersiap Sambut Pindapata Nasional, Simak Rekayasa Lalin Jakarta Berikut

Situasi di Indonesia dan Pesan untuk Publik

Bagaimana dengan tanah air? Berdasarkan data yang dihimpun, Indonesia sendiri telah mencatatkan sekitar 23 kasus hantavirus jenis Seoul dalam tiga tahun terakhir. Meskipun angka kematiannya (CFR) mencapai 13%, jumlah kasusnya relatif terkendali dan tidak menunjukkan potensi ledakan pandemi seperti flu atau corona.

Para ahli kesehatan global berkeyakinan bahwa hantavirus tidak akan menjadi pandemi dunia yang baru. “Ini tidak sebanding dengan ancaman influenza atau coronavirus,” ungkap Wölfel. Meskipun vaksin untuk hantavirus belum tersedia secara luas, kewaspadaan tetap harus dibarengi dengan literasi kesehatan yang baik. Jadi, alih-alih panik, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak valid mengenai penyakit menular ini.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul