Drama Hantavirus di MV Hondius: WHO Tegaskan Penularan Tak Secepat COVID-19
Kamis, 07 Mei 2026 10:04 WIB
Kabarmalam.com — Kabar terbaru datang dari samudera luas, di mana kapal pesiar mewah MV Hondius yang sempat terisolasi akibat serangan hantavirus akhirnya diizinkan melanjutkan pelayaran. Kapal yang sempat terombang-ambing di perairan Tanjung Verde tersebut kini tengah membelah ombak menuju Spanyol pada Rabu (6/5/2026), membawa harapan baru bagi ratusan orang di dalamnya.
Langkah Tegas Pemerintah Spanyol di Tenerife
Menteri Kesehatan Spanyol, Monica Garcia, mengonfirmasi bahwa kapal yang mengangkut hampir 150 jiwa itu dijadwalkan bersandar di Tenerife, Kepulauan Canary, dalam waktu tiga hari mendatang. Kabar yang melegakan adalah sejauh ini tidak ada laporan mengenai gejala penyakit baru dari para penumpang yang masih bertahan di atas dek.
Meski situasi mulai terkendali, otoritas setempat tidak mau kecolongan. Protokol ketat telah disiapkan. Bagi warga negara asing yang dinyatakan sehat, prosedur repatriasi akan segera dilakukan agar mereka bisa kembali ke negara asal. Namun, perlakuan berbeda diterapkan bagi 14 warga negara Spanyol.
“Warga Spanyol akan menjalani masa karantina khusus di rumah sakit militer di Madrid. Durasi isolasi ini sangat bergantung pada interaksi terakhir mereka dengan virus, mengingat masa inkubasinya bisa mencapai 45 hari,” ujar Garcia dalam keterangannya di Madrid.
WHO: Risiko Rendah dan Karakteristik Berbeda
Tragedi ini memang memilukan, merenggut nyawa pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga Jerman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada delapan orang yang diduga terinfeksi, dengan tiga kasus telah dikonfirmasi melalui uji laboratorium ketat, termasuk satu pasien yang kini dirawat intensif di Zurich, Swiss.
Namun, di tengah kekhawatiran global, Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, memberikan penjelasan yang menenangkan. Ia menegaskan bahwa risiko penyebaran virus ini ke masyarakat luas masih tergolong rendah karena pola penularannya yang sangat spesifik.
“Kontak dekat yang kami maksud dalam konteks penularan antarmanusia ini melibatkan interaksi fisik yang sangat intim, seperti berbagi kamar tidur atau memberikan perawatan medis tanpa pelindung. Ini sangat jauh berbeda dengan karakteristik COVID-19 atau influenza yang bisa menyebar dengan mudah di ruang publik,” tegas Van Kerkhove.
Varian Andes dan Pentingnya Jarak Fisik
Berbeda dengan virus corona yang bersifat airborne atau menyebar melalui udara dalam jarak sosial biasa, hantavirus varian Andes yang dicurigai menjadi biang keladi di MV Hondius membutuhkan kontak fisik langsung untuk berpindah inang. Hal inilah yang membuat wabah ini lebih mungkin dilokalisir.
Saat ini, WHO terus berkoordinasi dengan otoritas lintas negara untuk melacak jejak penumpang yang sempat singgah di Pulau Saint Helena. Di Afrika Selatan saja, sekitar 65 orang yang pernah berinteraksi dengan pasien tengah dalam pemantauan ketat, ditambah belasan orang lainnya di berbagai belahan dunia.
Suasana di Atas Kapal: Tenang dan Teratur
Meski berada di bawah bayang-bayang ancaman medis, suasana di dalam MV Hondius dilaporkan tetap kondusif. Kasem Hato, salah satu penumpang, membagikan pengalamannya mengenai kehidupan di bawah protokol kesehatan yang ketat. Ia memuji transparansi kapten kapal yang selalu memberikan informasi terkini secara jujur.
“Kami semua menyikapi ini dengan serius, tetapi tidak ada kepanikan yang berlebihan. Kami rutin mengenakan masker dan menjaga jarak. Hari-hari kami habiskan dengan membaca, menonton film, atau sekadar menikmati minuman hangat. Semangat di kapal ini tetap terjaga,” tutur Hato dengan nada optimis.