Trump Berang, Sebut Tawaran Damai Iran Benar-Benar Tidak Bisa Diterima
Senin, 11 Mei 2026 09:04 WIB
Kabarmalam.com — Harapan akan meredanya api konflik Timur Tengah nampaknya harus kembali membentur tembok kokoh. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja melontarkan pernyataan keras yang menolak mentah-mentah proposal balasan yang diajukan oleh pihak Iran terkait upaya pengakhiran perang di kawasan tersebut.
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump mengungkapkan kekecewaannya setelah meninjau dokumen yang dikirimkan oleh perwakilan Teheran. Tanpa merinci poin-poin keberatannya secara mendetail, ia menyebut usulan tersebut sebagai sesuatu yang sama sekali tidak dapat ditoleransi. “Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak bisa diterima!” tegas Trump dalam unggahannya pada Senin (11/5/2026).
Ketegangan yang Belum Menemui Titik Terang
Sikap keras Donald Trump ini muncul di tengah situasi geopolitik yang kian memanas. Sebelumnya, Iran memang telah memberikan respons terhadap draf perdamaian terbaru yang disodorkan Washington. Namun, alih-alih melunak, Teheran justru menyisipkan peringatan keras bahwa mereka siap membalas setiap serangan baru dari AS dan tidak akan membiarkan kehadiran kapal perang asing di wilayah strategis Selat Hormuz.
Perselisihan ini semakin rumit dengan sikap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Sejak pasukannya melancarkan operasi militer bersama militer AS pada Februari lalu, Netanyahu bersikeras bahwa perang tidak akan benar-benar usai sebelum fasilitas nuklir Iran dibongkar total dan cadangan uranium yang diperkaya disingkirkan sepenuhnya dari tanah Iran.
Diplomasi di Balik Layar yang Menemui Jalan Buntu
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian tetap menunjukkan sikap menantang di hadapan publik. Ia menegaskan bahwa partisipasi Iran dalam dialog bukan berarti sebuah langkah mundur atau penyerahan kedaulatan kepada tekanan asing. “Kami tidak akan pernah tunduk kepada musuh. Jika ada pembicaraan tentang dialog, itu tidak berarti kami menyerah,” tulis Pezeshkian melalui akun media sosialnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari penyiar negara IRIB, tanggapan Teheran yang dikirim melalui mediator Pakistan tersebut sebenarnya menitikberatkan pada penghentian perang di berbagai lini, terutama di Lebanon yang menjadi medan tempur Israel dan Hizbullah. Selain itu, Iran juga menuntut adanya jaminan nyata terhadap keamanan pelayaran di perairan internasional.
Meskipun proposal awal dari Amerika Serikat menawarkan perpanjangan gencatan senjata di kawasan Teluk untuk membuka jalan bagi penyelesaian konflik jangka panjang dan pembahasan program nuklir Iran, penolakan tegas Trump kali ini mengisyaratkan bahwa jalan menuju perdamaian masih sangat terjal dan penuh dengan ketidakpastian geopolitik.