Tensi Memanas di Timur Tengah: Perundingan Damai Buntu, Israel Isyaratkan Serangan Susulan ke Iran
Senin, 13 Apr 2026 12:40 WIB
Kabarmalam.com — Awan mendung kembali menggelayuti stabilitas kawasan Timur Tengah setelah upaya diplomasi yang alot menemui jalan buntu. Sejumlah petinggi di lingkaran pemerintahan Israel kini mulai menyuarakan isyarat kuat untuk melanjutkan agresi militer terhadap Iran. Eskalasi ini mencuat menyusul kegagalan total dalam perundingan damai maraton yang melibatkan pihak Teheran dan Amerika Serikat (AS).
Gencatan senjata singkat selama dua minggu yang sempat meredam dentuman meriam sejak Selasa (7/4/2026) kini berada di ujung tanduk. Ketegangan kembali memuncak saat Menteri Energi Israel, Eli Cohen, menegaskan bahwa opsi serangan fisik tetap berada di atas meja jika kesepakatan yang memuaskan tidak kunjung tercapai di meja perundingan.
Garis Merah Nuklir dan Isyarat Perang
Dalam sebuah wawancara mendalam dengan harian Israel, Yedioth Ahronoth, Cohen menekankan bahwa isu nuklir Iran bukan sekadar masalah regional, melainkan ancaman internasional yang serius. Ia secara khusus memberikan apresiasi terhadap ketegasan Presiden AS Donald Trump yang telah menetapkan “garis merah” dalam menangani ambisi nuklir Teheran.
“Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, Iran berada dalam jangkauan serangan kita,” tegas Cohen. Tidak hanya berfokus pada Iran, Cohen juga memberikan sinyalemen keras terkait front di Lebanon. Ia mendesak agar militer Israel memperluas target operasionalnya, tidak hanya menyasar milisi Hizbullah, tetapi juga melumpuhkan fasilitas publik dan infrastruktur strategis Lebanon guna memberikan tekanan maksimal.
Kegagalan Diplomasi di Islamabad
Pernyataan keras para menteri ini muncul setelah perundingan intensif yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, gagal membuahkan kesepakatan final terkait gencatan senjata antara AS dan Iran. Kegagalan ini seolah menjadi pemantik bagi faksi garis keras di Tel Aviv untuk kembali menggaungkan genderang perang di kawasan Timur Tengah.
Menteri Ekonomi Israel, Nir Barkat, dalam sebuah diskusi dengan Channel 14, mengklaim bahwa pihak Teheran gagal membaca situasi geopolitik terbaru. Menurutnya, Iran terlalu meremehkan determinasi yang dimiliki oleh duet kepemimpinan Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
“Para pejabat Iran tidak memahami tekad kuat yang kita miliki. Kita akan kembali ke medan laga dan memastikan seluruh tujuan strategis tercapai,” ujar Barkat dengan nada optimis terkait hasil konflik bersenjata tersebut.
Sinkronisasi Washington dan Tel Aviv
Di tempat terpisah, Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zoha, melalui akun media sosial X miliknya, menggarisbawahi betapa solidnya koordinasi antara Washington dan Tel Aviv. Ia menyebutkan bahwa ketegasan Amerika Serikat dalam mencegah Iran memiliki senjata nuklir adalah bukti nyata dari keselarasan visi kedua negara.
Meskipun situasi memanas, sebuah pertemuan tingkat tinggi tetap dijadwalkan berlangsung di Washington DC pada Selasa (14/4). Pertemuan ini sejatinya bertujuan untuk mengamankan dialog langsung antara Tel Aviv dan Beirut terkait gencatan senjata di wilayah perbatasan. Namun, dengan gagalnya kesepakatan besar dengan Iran, banyak pihak meragukan keberhasilan diplomasi internasional tersebut dalam waktu dekat.