Waka MPR Lestari Moerdijat: Melestarikan Lengger Banyumas Adalah Upaya Merawat Nadi Kebangsaan
Senin, 15 Jun 2026 19:04 WIB
Kabarmalam.com — Kesenian Lengger Banyumas bukan sekadar gerak tari elok di atas panggung. Lebih jauh, ia adalah manifestasi identitas dan urat nadi kesadaran berbangsa yang harus terus berdenyut di tengah arus zaman.
Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat—yang akrab disapa Rerie—dalam sebuah diskusi hangat di Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Menurutnya, upaya merawat Lengger Banyumas adalah bagian tak terpisahkan dari strategi memperkuat karakter generasi penerus agar tidak kehilangan arah di masa depan.
Budaya Sebagai Fondasi Moral Demokrasi
Dalam acara penyerapan aspirasi masyarakat bertajuk "Penguatan Demokrasi Substansi dan Etika Berbangsa", Rerie melontarkan pemikiran kritis mengenai relasi antara budaya dan sistem pemerintahan. Ia berpendapat bahwa budaya merupakan ‘infrastruktur moral’ bagi demokrasi. Tanpa akar budaya yang kokoh, demokrasi hanya akan menjadi cangkang kosong yang rapuh.
“Demokrasi saat ini seringkali dipersempit maknanya menjadi sebatas kontestasi politik, pemilu, atau perebutan kekuasaan semata. Padahal, demokrasi sejati membutuhkan warga negara yang memiliki etika, rasa hormat terhadap perbedaan, dan kecintaan mendalam pada budayanya sendiri. Inilah inti dari kebudayaan kita,” tegas legislator dari Dapil II Jawa Tengah tersebut.
Amanat Konstitusi dan Visi Menuju Panggung Dunia
Rerie juga mengingatkan kembali amanat Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945, di mana negara memikul tanggung jawab besar untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban global. Baginya, budaya bukan sekadar aksesori pembangunan, melainkan jiwa dan napas yang memberikan warna pada kemajuan bangsa.
Setelah sukses ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional pada tahun 2019, Rerie kini mendorong agar Lengger Banyumas melangkah lebih jauh menuju panggung dunia melalui pengakuan UNESCO. “Pengakuan negara dan internasional itu vital. Ini bukan formalitas administratif, melainkan penegasan bahwa Lengger adalah bagian integral dari narasi besar perjalanan bangsa Indonesia,” tambahnya.
Melawan Ancaman ‘Amnesia’ Budaya
Salah satu poin krusial yang disoroti Rerie adalah tantangan zaman yang mengancam keterhubungan generasi muda dengan akar tradisinya. Kekhawatiran terbesarnya bukanlah hilangnya panggung pertunjukan, melainkan hilangnya ingatan kolektif anak muda terhadap nilai-nilai luhur di balik warisan budaya tersebut.
“Jika generasi muda kehilangan koneksi dengan budayanya, bangsa ini akan mengalami amnesia sejarah. Kita akan kehilangan memori tentang siapa kita sebenarnya,” ujar Rerie dengan nada persuasif.
Menutup pemaparannya, ia menekankan bahwa pelestarian seni tidak boleh hanya menjadi beban komunitas budayawan atau seniman semata. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan warisan ini tetap hidup dan relevan.
Acara yang berlangsung penuh antusiasme ini juga dihadiri oleh Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, Wakil Ketua Komisi XII Sugeng Suparwoto, Pembina Lengger Bicara Andy Flores Noya, serta para pegiat seni yang terus berkomitmen menjaga nyala api kebudayaan di Bumi Banyumas.