Ikuti Kami
kabarmalam.com

Diplomasi di Atas Kertas: Mengapa Iran Masih Menaruh Curiga Mendalam pada Amerika Serikat?

Husnul | kabarmalam.com
Senin, 15 Jun 2026 22:04 WIB
Diplomasi di Atas Kertas: Mengapa Iran Masih Menaruh Curiga Mendalam pada Amerika Serikat?

Kabarmalam.com — Meski lembaran baru perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah dibuka, atmosfer di Teheran tampaknya belum benar-benar mencair. Di balik jabat tangan diplomatik dan kesepakatan kerangka kerja yang baru saja dicapai, tersimpan lapisan skeptisisme yang tebal. Kementerian Luar Negeri Iran secara terbuka menyatakan bahwa luka lama akibat sejarah panjang hubungan kedua negara tidak bisa sembuh hanya dengan satu tanda tangan.

Luka Sejarah yang Belum Mengering

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Teheran masih memelihara “ketidakpercayaan yang mendalam” terhadap Washington. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada Senin (15/6/2026), Baqaei menyebutkan bahwa kerangka kerja ini hanyalah langkah awal yang sangat kecil dalam upaya pengurangan ketegangan global.

“Sangat disayangkan, ketidakpercayaan mendalam kami terhadap Amerika Serikat berakar pada sejarah panjang kesalahan fatal yang dilakukan oleh para pemimpin mereka,” ujar Baqaei dengan nada tegas. Menurutnya, Gedung Putih masih memiliki perjalanan yang sangat panjang dan terjal sebelum bisa kembali memenangkan hati rakyat Iran.

Baca Juga  Tensi Memanas di Timur Tengah: Perundingan Damai Buntu, Israel Isyaratkan Serangan Susulan ke Iran

Aset yang Dibekukan dan Kompensasi Perang

Dalam kesepakatan yang dimediasi secara maraton tersebut, terdapat poin-poin krusial yang menjadi syarat mutlak bagi Iran. Washington dilaporkan telah berkomitmen untuk mencairkan dana milik Iran yang selama ini diblokir di luar negeri. Tidak hanya itu, pihak Amerika juga diwajibkan memberikan kompensasi atas segala kerusakan yang timbul selama periode konflik bersenjata berlangsung.

Baqaei menggarisbawahi bahwa pelepasan aset dan ganti rugi adalah dua pilar utama yang akan menguji keseriusan Amerika. Tanpa realisasi nyata pada kedua bidang ini, kesepakatan tersebut diprediksi hanya akan menjadi macan kertas yang kehilangan taringnya.

Kendali Selat Hormuz dan Aturan Main Baru

Satu hal yang menarik dalam kesepakatan ini adalah status Selat Hormuz, urat nadi pasokan minyak dunia. Setelah sempat diblokade total sejak awal perang, jalur strategis ini kini akan kembali dikelola oleh Iran. Namun, alih-alih memungut biaya tol transit, Teheran lebih memilih untuk mengenakan biaya layanan maritim.

Baca Juga  Gebrakan Rano Karno! Siapkan Rp84 Miliar Demi Ubah Jakarta Jadi Kota Sinema Dunia

“Kami tidak pernah berniat memungut upeti lewat tol. Yang kami kenakan adalah biaya navigasi, perlindungan lingkungan, asuransi, serta layanan penting lainnya bagi kapal yang melintas,” jelas Baqaei. Langkah ini dipandang sebagai upaya Iran untuk tetap memegang kontrol kedaulatan sambil memastikan stabilitas energi global tetap terjaga.

Tekanan Terhadap Israel dan Masa Depan Nuklir

Iran juga memberikan tuntutan keras agar AS memastikan Israel mematuhi penghentian agresi di Lebanon. Baqaei dengan gamblang menyatakan bahwa Teheran tidak menaruh kepercayaan sedikit pun, baik kepada Tel Aviv maupun Washington. Baginya, komitmen AS dalam menekan sekutunya akan menjadi indikator penting dalam proses diplomasi internasional ini.

Kesepakatan ini membuka jendela negosiasi selama 60 hari ke depan untuk menyusun draf akhir. Agenda besar yang menanti mencakup isu sensitif mengenai program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi yang telah mencekik negara tersebut selama bertahun-tahun. Jika semua berjalan sesuai rencana, resolusi Dewan Keamanan PBB akan menjadi payung hukum internasional untuk mengesahkan perdamaian ini.

Baca Juga  Refleksi May Day, Megawati: Kaum Buruh Adalah Poros Utama Kemandirian Bangsa, Bukan Sekadar Angka Ekonomi

Intervensi Pakistan dan Respons Trump

Pengumuman damai ini pertama kali mencuat melalui Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai perantara. Sharif menyatakan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk melakukan penghentian pertempuran secara “segera dan permanen” di seluruh lini, termasuk di Lebanon.

Tak lama berselang, Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengonfirmasi kabar tersebut melalui media sosial miliknya. Dengan gaya khasnya, Trump menyambut hangat pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut. “Kapal-kapal di dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!” tulis Trump, menandakan berakhirnya ketegangan yang bermula dari serangan balasan pada akhir Februari lalu.

Meski genderang perang telah berhenti ditabuh, dunia kini menunggu apakah janji-janji diplomatik ini mampu meruntuhkan tembok kecurigaan yang telah berdiri kokoh selama puluhan tahun antara Teheran dan Washington.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul