Ikuti Kami
kabarmalam.com

Keteguhan Elie Saab di Beirut: Merajut Keindahan Fashion di Tengah Gempuran Konflik Lebanon

Jurnal | kabarmalam.com
Minggu, 03 Mei 2026 16:35 WIB
Keteguhan Elie Saab di Beirut: Merajut Keindahan Fashion di Tengah Gempuran Konflik Lebanon

Kabarmalam.com — Di tengah kepulan asap dan dentuman rudal yang belakangan ini kembali mengguncang tanah Lebanon, satu nama besar di dunia mode internasional tetap berdiri kokoh membawa gurat keindahan: Elie Saab. Sang maestro desainer legendaris ini menegaskan pilihannya untuk tidak beranjak dari tanah kelahirannya, meski krisis geopolitik di Timur Tengah kini berada di titik yang sangat mengkhawatirkan.

Simbol Resiliensi di Tengah Puing Perang

Nama Elie Saab telah lama menjadi sinonim bagi kemewahan dunia fashion show kelas atas. Karya-karyanya selalu menjadi langganan bintang papan atas Hollywood. Dunia tentu tak akan lupa pada tahun 2002, saat Halle Berry mengukir sejarah sebagai perempuan kulit hitam pertama yang memenangkan Oscar kategori Aktris Terbaik, ia mengenakan gaun merah burgundy transparan dengan sulaman bunga yang ikonik—sebuah mahakarya dari tangan Elie Saab.

Baca Juga  Houthi Yaman Siaga Tempur: Ancaman Blokade Selat Bab al-Mandeb Bayangi AS dan Israel

Namun, di balik gemerlap panggung Haute Couture di Paris atau Milan, hati Saab tertambat erat di Beirut. Ia mendirikan labelnya pada tahun 1982, sebuah masa di mana Lebanon sedang didera perang saudara yang brutal (1975-1990). Sejarah seolah berulang, dan bagi Saab, menyerah bukanlah pilihan. Meski kini bisnisnya telah berekspansi hingga ke Lugano, Swiss, pusat gravitasi kreativitasnya tetap berada di Lebanon.

Misi Mengubah Keburukan Menjadi Keindahan

Dalam sebuah wawancara mendalam, pria berusia 61 tahun itu mengungkapkan filosofi hidupnya yang menyentuh. “Sangat miris, tapi kami sudah terbiasa dengan situasi ini. Bagi saya, fashion memiliki misi fundamental: mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang indah. Itulah semangat yang saya bawa sejak hari pertama,” ungkapnya dengan nada tegar.

Komitmen ini bukan sekadar kata-kata manis. Jenama Elie Saab saat ini menaungi sekitar 700 staf di Beirut. Di balik gaun-gaun indah yang mereka produksi, tersimpan cerita pilu tentang loyalitas. Elie Saab Jr., putra sang desainer yang kini ikut mengelola bisnis tersebut, menceritakan betapa tangguhnya tim mereka dalam menghadapi konflik timur tengah yang kian memanas.

Baca Juga  Lawan Eksklusivitas, Stella McCartney Gandeng H&M Rilis Koleksi Sustainable yang Ikonik

Loyalitas yang Melampaui Ketakutan

“Ada anggota tim kami yang rumahnya hancur terkena ledakan rudal. Mereka kehilangan tempat tinggal, namun keesokan harinya, tepat jam 8 pagi, mereka sudah berdiri di depan kantor untuk bekerja,” kenang Elie Saab Jr. dengan penuh haru. Menurutnya, bekerja bukan lagi soal mencari nafkah semata, melainkan cara bagi mereka untuk tetap fokus pada masa depan dan tidak tenggelam dalam trauma perang.

Banyak pihak, termasuk rekan sejawat di Chambre Syndicale de la Haute Couture, menyarankan agar Saab memindahkan seluruh operasinya ke tempat yang lebih aman seperti Paris. Namun, Saab menampik ide tersebut. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap berada di sana, terutama di masa-masa sulit.

Baca Juga  Tensi Memanas di Timur Tengah: Perundingan Damai Buntu, Israel Isyaratkan Serangan Susulan ke Iran

Mimpi Mengembalikan Kejayaan Beirut

Bagi keluarga Saab, Lebanon bukan sekadar titik di peta, melainkan sebuah harapan. Mereka merindukan masa keemasan di era 1960-an, ketika Beirut dijuluki sebagai “Paris dari Timur Tengah” karena keindahan arsitektur, budaya, dan tentu saja selera modenya yang tinggi.

Melalui setiap jahitan dan detail kristal pada koleksi gaun pesta terbarunya, Elie Saab seolah sedang berbisik kepada dunia bahwa semangat manusia tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh bom sekalipun. Keindahan akan selalu menemukan jalan untuk bersinar, bahkan di tempat yang paling gelap sekalipun.

Tentang Penulis
Jurnal
Jurnal

Jurnalis kabarmalam.com