Revolusi Pendidikan Banten: Jurusan SMK yang Minim Serapan Kerja Bakal Segera Dihapus
Jumat, 08 Mei 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten tengah mengambil langkah drastis untuk memutus rantai pengangguran yang kerap menjerat para lulusan sekolah menengah kejuruan. Sebagai bentuk respons terhadap dinamika pasar kerja, Pemprov kini sedang mengevaluasi secara menyeluruh berbagai jurusan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dinilai sudah tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data evaluasi, terdapat beberapa jurusan yang sudah mencapai titik jenuh, di mana jumlah lulusan melimpah ruah namun lapangan kerja yang tersedia sangat terbatas. Hal inilah yang ditengarai menjadi salah satu penyumbang terbesar angka pencari kerja di Tanah Jawara.
Jurusan Populer yang Kini Masuk ‘Daftar Merah’
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten, Jamaluddin, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak segan-segan untuk menutup program studi yang serapan kerjanya rendah. Menurutnya, paradigma lama dalam memilih jurusan sekolah kini harus diubah total demi masa depan para siswa.
“Jurusan-jurusan yang sudah jenuh itu seperti Sekretaris, Ketatausahaan, termasuk Akuntansi dan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan). Saat ini jumlah lulusannya sudah terlalu banyak, sehingga tidak sebanding dengan lowongan yang ada. Ujung-ujungnya, mereka menyumbang angka pengangguran,” tegas Jamaluddin saat memberikan keterangan pada Jumat (8/5/2026).
Jamaluddin menambahkan bahwa proses evaluasi pendidikan ini akan dilakukan secara bertahap. Jurusan yang terbukti tidak produktif akan dikurangi kuotanya atau bahkan dihilangkan sepenuhnya dari kurikulum sekolah terkait, untuk kemudian digantikan dengan program yang lebih menjanjikan.
Mendorong Keterampilan Teknis Bernilai Tinggi
Sebagai solusi atas penghapusan jurusan-jurusan tersebut, Pemprov Banten mulai memfokuskan diri pada pengembangan jurusan berbasis keterampilan teknis khusus. Salah satu yang menjadi primadona baru adalah bidang pengelasan atau welding dengan spesifikasi tingkat tinggi.
“Kebutuhan tenaga kerja di bidang pengelasan mencapai ratusan ribu orang. Bahkan, untuk spesialisasi pengelasan kapal hingga pengelasan bawah air, peluangnya sangat besar. Di Jepang, gaji tenaga ahli ini bisa menyentuh angka Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per bulan,” jelas Jamaluddin memaparkan potensi besar di balik pendidikan vokasi yang tepat sasaran.
Menyelaraskan Kurikulum dengan Kawasan Industri
Selain sektor pengelasan, bidang kuliner juga dipandang masih memiliki prospek cerah karena pertumbuhannya yang stabil. Namun, fokus utama Pemprov Banten tetap tertuju pada penguatan sinergi dengan sektor manufaktur besar yang tersebar di wilayah Banten.
Jamaluddin menyoroti potensi besar di kawasan industri Cilegon. Perusahaan-perusahaan kimia dan manufaktur berat di sana sebenarnya sangat membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknis spesifik yang selama ini sering kali sulit dipenuhi oleh lulusan lokal.
“Kami sedang mendorong agar SMK bisa mencetak tenaga kerja teknis yang dibutuhkan industri kimia dan manufaktur berat di Cilegon. Dengan begitu, lulusan kita tidak hanya memegang ijazah, tapi benar-benar memiliki keahlian yang dicari oleh pasar,” pungkasnya. Langkah berani ini diharapkan mampu mengubah wajah pendidikan di Banten menjadi lebih produktif dan kompetitif di kancah nasional maupun internasional.