Siasat Teheran di Selat Hormuz: Iran Tawarkan Barter Akses dengan Penghentian Blokade AS
Senin, 27 Apr 2026 16:35 WIB
Kabarmalam.com — Ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru setelah Teheran menyodorkan proposal tak terduga kepada Washington. Pemerintah Iran secara resmi menawarkan pembukaan kembali akses strategis di Selat Hormuz, dengan satu syarat mutlak: Amerika Serikat (AS) harus segera menghentikan blokade ekonomi yang selama ini mencekik negara tersebut.
Langkah berani ini terungkap dari keterangan dua pejabat regional yang enggan disebutkan identitasnya. Menariknya, dalam tawaran tersebut, Iran dengan tegas memisahkan isu jalur maritim ini dari pembicaraan mengenai program nuklir iran yang kontroversial. Strategi ini seolah menjadi upaya Teheran untuk memecah kebuntuan tanpa harus mengorbankan proyek strategis mereka di bidang energi atom.
Manuver di Tengah Tekanan Maksimum
Proposal yang kabarnya diteruskan melalui perantara Pakistan ini muncul di tengah konflik iran as yang kian memanas. Namun, optimisme Iran nampaknya akan berbenturan dengan tembok keras di Washington. Presiden Donald Trump, yang dikenal dengan kebijakan tekanan maksimumnya, diprediksi tidak akan menyambut tawaran ini dengan tangan terbuka.
Bagi Trump, setiap kesepakatan dengan Iran harus bersifat komprehensif. Ia menginginkan pakta yang tidak hanya menjamin keamanan di Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan dunia, tetapi juga penghancuran total ambisi nuklir Teheran demi gencatan senjata yang bersifat permanen.
“Kita memegang semua kartu. Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa mendatangi kita, atau menghubungi kita secara langsung,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News, menegaskan posisi tawarnya yang dominan.
Retakan di Kepemimpinan Teheran?
Di balik tawaran tersebut, terselip kabar mengenai ketidaksolidan di internal Iran. Laporan dari media Axios menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah memberikan sinyal kepada mediator dari Pakistan, Mesir, Turki, hingga Qatar bahwa belum ada konsensus bulat di tingkat kepemimpinan tertinggi Iran mengenai cara merespons tuntutan Amerika Serikat secara menyeluruh.
Kebuntuan ini pun berdampak pada batalnya sejumlah agenda diplomatik penting. Trump secara mendadak membatalkan rencana kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad, Pakistan. Menurut Trump, melakukan dialog tanpa substansi yang jelas hanyalah buang-buang waktu.
Saat ini, mata dunia tertuju pada Gedung Putih. Trump dijadwalkan segera menggelar pertemuan dengan tim keamanan nasional dan pakar kebijakan luar negeri untuk menentukan langkah selanjutnya. Apakah tawaran Selat Hormuz ini akan menjadi pintu pembuka perdamaian, atau justru memicu eskalasi baru dalam ketegangan global? Kita tunggu saja kelanjutannya.