Misi Damai Megawati: Dialog Strategis Bersama Penasihat Presiden Korsel Terkait Masa Depan Reunifikasi Korea
Jumat, 08 Mei 2026 18:04 WIB
Kabarmalam.com — Langkah nyata dalam kancah diplomasi internasional kembali diperlihatkan oleh Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Dalam sebuah pertemuan hangat yang berlangsung di kediaman pribadinya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (8/5/2026), Megawati menerima kunjungan Prof. Kim Soo Il, Penasihat Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah dialog mendalam mengenai dinamika geopolitik global, khususnya upaya perdamaian dan reunifikasi Korea.
Peran Strategis Sang ‘Special Envoy’
Ditemani oleh Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDIP Rokhmin Dahuri, Megawati tampak antusias membahas masa depan Semenanjung Korea. Dalam keterangan persnya, Hasto Kristiyanto mengungkapkan bahwa dunia internasional, khususnya Korea Selatan, masih menaruh harapan besar pada Megawati sebagai sosok special envoy atau utusan khusus yang mampu menjembatani komunikasi antara Utara dan Selatan.
“Ibu Megawati diharapkan tetap menjalankan peran strategisnya guna mendorong terciptanya perdamaian abadi di Semenanjung Korea,” ujar Hasto. Kedekatan emosional dan historis Megawati dengan kedua pemimpin negara tersebut menjadi modal sosial yang tidak dimiliki sembarang tokoh dunia.
Warisan Diplomasi Sejarah dari Era Bung Karno
Hubungan erat antara Indonesia dan Semenanjung Korea bukanlah hal baru. Hasto menjelaskan bahwa fondasi ini telah diletakkan sejak era Presiden Soekarno. Persahabatan Bung Karno dengan pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, telah menjadi legenda sejarah, terutama melalui simbol bunga Kimilsungia—anggrek ungu pemberian Bung Karno yang kini menjadi bunga nasional Korea Utara.
Estafet diplomasi ini dilanjutkan oleh Megawati. Saat menjabat sebagai Presiden pada tahun 2002, ia melakukan kunjungan bersejarah ke Pyongyang untuk menemui Kim Jong Il. Bahkan setelah masa jabatannya usai, Megawati terus aktif memperjuangkan persatuan bangsa Korea, termasuk melalui dua kunjungan penting pada tahun 2005 untuk membahas penguatan hubungan bilateral.
Pengakuan Luas dari Negeri Ginseng
Di sisi lain, kedekatan Megawati dengan Korea Selatan juga tidak kalah kuat. Rokhmin Dahuri memaparkan sederet pengakuan akademis dan kehormatan yang diterima Megawati dari Korea Selatan, mulai dari gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of the Arts (2022), hingga gelar doktor kehormatan dari Korean Maritime University (2015) dan Mokpo National University (2017).
“Beliau juga pernah menjadi pembicara kunci dalam DMZ International Forum on the Peace Economy di Seoul pada 2019. Hal ini membuktikan betapa besar pengaruh beliau dalam narasi perdamaian dunia,” tambah Rokhmin. Korea Utara dan Korea Selatan, meskipun terpisah secara politik akibat sisa-sisa Perang Dingin, sejatinya adalah satu bangsa dengan akar budaya dan bahasa yang identik.
Sentuhan Humanis di Akhir Pertemuan
Pertemuan yang berlangsung serius namun santai tersebut ditutup dengan momen menarik yang menunjukkan sisi humanis Megawati. Prof. Kim Soo Il, yang memiliki sejarah panjang sebagai Konsul Kehormatan RI di Busan selama 14 tahun, tampak sangat fasih berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Usai sesi pertukaran cinderamata, suasana mencair saat Megawati melontarkan candaan mengenai usia.
“Sekarang berapa umur, Prof Kim?” tanya Megawati dengan nada bersahabat. Prof. Kim pun menjawab bahwa ia kini berusia 73 tahun. Mendengar itu, Megawati tersenyum lebar dan menyahut, “Wah, masih lebih muda. Saya sudah 79 tahun.” Candaan tersebut menjadi penutup manis dari sebuah diskusi penting bagi masa depan geopolitik Asia.