Menbud Fadli Zon Pertegas Visi Borobudur Sebagai Living Heritage di Momen 50 Tahun Vihara Mendut
Minggu, 03 Mei 2026 22:03 WIB
Kabarmalam.com — Langkah nyata untuk menjaga denyut spiritualitas dan sejarah di tanah Jawa terus diperkuat oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Magelang, Fadli Zon meninjau langsung kesiapan Vihara Mendut dalam menyambut perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 31 Mei 2026 mendatang. Kehadiran Menbud ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah penegasan komitmen negara terhadap pelestarian budaya yang hidup atau living heritage.
Refleksi Setengah Abad Vihara Mendut
Didampingi oleh tokoh spiritual terkemuka, Bhante Pannavaro Mahathera, Fadli Zon menyusuri kawasan vihara umat Buddha Mahayana yang letaknya bersisian dengan Candi Mendut. Kunjungan ini terasa istimewa karena Vihara Mendut tengah bersiap menyongsong usia emasnya. Didirikan pada tahun 1976, bangunan suci ini akan genap berusia 50 tahun pada tahun 2026 nanti.
“Vihara ini memiliki nilai historis yang sangat mendalam. Sejak awal berdiri hingga kini mencapai usia 50 tahun, Bhante Pannavaro telah memainkan peran krusial dalam memimpin umat dan menjaga nilai-nilai luhur di sini. Kami sangat mengapresiasi dedikasi tersebut dalam merawat warisan spiritual bangsa,” ungkap Fadli Zon dalam keterangannya.
Filosofi Chattra dan Reaktualisasi Borobudur
Salah satu poin krusial dalam diskusi antara Fadli Zon dan Bhante Pannavaro adalah mengenai simbolisme Chattra. Dalam tradisi Buddha, Chattra yang berbentuk mahkota atau payung bukan sekadar hiasan arsitektural, melainkan simbol perlindungan, penghormatan, dan pencapaian spiritual tertinggi. Fadli mencatat bahwa relief pada Borobudur banyak menampilkan simbol ini, yang memperkuat alasan mengapa situs tersebut harus dikelola sebagai warisan yang hidup.
“Aspirasi kita adalah menjadikan Borobudur sebagai living heritage yang nyata, di mana nilai-nilainya terus dipraktikkan oleh masyarakat. Tentu saja, visi ini membutuhkan dukungan penuh dari organisasi-organisasi Buddha dan seluruh lapisan masyarakat agar pesan perdamaian dari situs suci ini tetap relevan bagi dunia modern,” tambahnya.
Waisak: Momentum Persatuan dalam Keberagaman
Menjelang peringatan Tri Suci Waisak, Fadli Zon menekankan bahwa momentum tersebut tidak boleh dilihat hanya dari kacamata ritual keagamaan semata. Baginya, Waisak adalah bagian integral dari perjalanan peradaban Indonesia yang majemuk. Ajaran Dharma tentang kebijaksanaan dan kasih sayang dipandang sebagai kompas moral yang mampu mempererat tali toleransi dan persatuan nasional.
Kunjungan strategis ini juga dihadiri oleh jajaran petinggi kementerian dan lembaga terkait, mulai dari Direktur Utama Taman Wisata Borobudur, Febrina Intan, hingga Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan. Kehadiran para ahli dan birokrat seperti Basuki Teguh Yuwono, Sjamsul Hadi, Agus Widiatmoko, Indira Esti Nurjadin, dan Riris Purbasari menunjukkan adanya sinergi lintas sektoral dalam mengelola aset budaya bangsa.
Melalui penguatan di sektor perlindungan dan pemanfaatan kebudayaan, Kementerian Kebudayaan berupaya memastikan bahwa setiap situs bersejarah di Indonesia tidak hanya menjadi monumen bisu, tetapi terus memberikan manfaat sosial, spiritual, dan ekonomi bagi masyarakat luas sebagai warisan budaya yang terus bertumbuh.