Ikuti Kami
kabarmalam.com

Krisis Selat Hormuz: 20.000 Pelaut dan 1.500 Kapal Terjebak di Tengah Ketegangan Iran-AS

Husnul | kabarmalam.com
Jumat, 08 Mei 2026 11:36 WIB
Krisis Selat Hormuz: 20.000 Pelaut dan 1.500 Kapal Terjebak di Tengah Ketegangan Iran-AS

Kabarmalam.com — Krisis kemanusiaan dan ekonomi yang mengkhawatirkan kini tengah membayangi perairan Teluk. Sebanyak 1.500 unit kapal bersama sekitar 20.000 awak kapal dilaporkan terjebak di tengah blokade yang dilakukan Iran di kawasan strategis Selat Hormuz. Situasi genting ini diungkapkan langsung oleh Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB, Arsenio Dominguez, dalam pertemuan Konvensi Maritim Amerika di Panama pada Kamis (7/5/2026).

Eskalasi konflik di Timur Tengah ini bermula sejak serangan militer yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Sebagai langkah balasan, Teheran melakukan penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi utama perdagangan internasional. Dampaknya, ribuan pelaut kini berada dalam ketidakpastian di tengah laut tanpa kejelasan kapan mereka bisa melanjutkan perjalanan.

Baca Juga  Diplomasi di Balik Meja Hijau: 10 Poin Proposal Iran yang Mampu Redam Agresi Donald Trump

Dampak Luas Bagi Ekonomi Global

Dominguez menekankan bahwa blokade ini bukan sekadar masalah regional, melainkan ancaman serius bagi perdagangan global. Jalur yang kini tertutup tersebut melayani pengiriman lebih dari 80 persen total komoditas konsumsi dunia. Selain itu, sebelum pecahnya konflik, diperkirakan seperlima dari pasokan minyak dan gas dunia mengalir melalui selat ini. Penutupan paksa ini telah memicu lonjakan harga energi di pasar global secara signifikan yang mulai dirasakan oleh berbagai negara.

“Mereka yang terdampar adalah orang-orang tidak bersalah yang hanya menjalankan tugas profesinya setiap hari demi kepentingan banyak negara. Namun, saat ini mereka justru tersandera oleh situasi geopolitik yang berada di luar kendali mereka,” ujar Dominguez dengan nada prihatin di hadapan para eksekutif industri maritim dan perwakilan IMO.

Baca Juga  Selat Hormuz Kembali Dibuka, Pertamina Siapkan Skenario Matang untuk Dua Kapal Tanker yang Sempat Tertahan

Keselamatan Pelaut dalam Ancaman

Kondisi di lapangan semakin mencekam dengan adanya laporan mengenai jatuhnya korban jiwa. Hingga saat ini, setidaknya sepuluh pelaut dilaporkan tewas dalam lebih dari 30 insiden serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di wilayah tersebut. Kepala IMO secara tegas mengimbau para operator kapal untuk menghindari wilayah Teluk guna mencegah bertambahnya korban jiwa maupun kerugian finansial yang lebih besar di kalangan industri maritim.

Di sisi lain, dinamika politik dari Gedung Putih turut mewarnai krisis ini. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat mengumumkan rencana operasi angkatan laut berskala besar untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak dan membuka paksa jalur tersebut. Namun, perintah tersebut secara mengejutkan dibatalkan tidak lama setelah diumumkan. Saat ini, Washington dilaporkan tengah menanti respon resmi dari Iran terhadap proposal perdamaian yang diharapkan mampu mengakhiri perang dan membuka kembali akses pelayaran dunia secara permanen.

Baca Juga  HKB 2026: Menakar Kesiapsiagaan Nasional Lewat Aksi Nyata 'Siap untuk Selamat'
Tentang Penulis
Husnul
Husnul