Tragedi Berdarah Rumbai: Terungkapnya Siasat Keji Menantu yang Jadi Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru
Minggu, 03 Mei 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Tabir gelap yang menyelimuti kasus kematian tragis Dumaris Boru Sitio (60) di Kota Pekanbaru akhirnya tersingkap sepenuhnya. Kepolisian Daerah Riau berhasil membedah peran dari empat tersangka yang terlibat dalam aksi keji tersebut, di mana fakta memilukan muncul ke permukaan: sang menantu, Anisa Florensa (AF), ternyata merupakan otak di balik perencanaan pembunuhan sadis ini.
Siasat Matang di Balik Kedok Menantu
Bukan sekadar aksi spontan, tindakan kriminal ini rupanya telah dirancang dengan sangat dingin. AF tidak bergerak sendirian; ia menyeret sahabat lamanya, Lisbet (L), yang sudah dikenalnya sejak masa SMP di Sumatera Utara. Keduanya kemudian berkolaborasi dengan dua pria lainnya, yakni Selamet (SL) dan Erwandi alias Iwan, untuk mengeksekusi rencana yang semula hanya diniatkan sebagai perampokan.
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Zahwani Pandra, mengungkapkan bahwa para pelaku sempat melakukan survei lokasi sebanyak empat kali untuk memastikan aksi mereka berjalan mulus tanpa hambatan. “Awalnya motif mereka adalah perampokan, namun di tengah jalan rencana itu berubah menjadi pembunuhan,” jelas Pandra pada Minggu (3/5/2026).
Eksekusi Kejam dengan Balok Kayu
Kepercayaan korban menjadi celah bagi para pelaku. Dumaris, yang tidak menaruh curiga sedikit pun karena merasa AF masih merupakan bagian dari keluarganya, menyambut mereka dengan hangat. Padahal, AF diketahui sudah tidak tinggal di rumah tersebut sejak 2023 meski status pernikahannya dengan anak pertama korban belum resmi berakhir.
Detik-detik mencekam itu terekam oleh kamera CCTV. Setelah disambut dengan salaman yang tampak normal, situasi berubah drastis saat tersangka SL muncul membawa balok kayu. Tanpa ampun, SL menghantamkan kayu tersebut ke arah kepala korban. Tak cukup sekali, hantaman keras dilakukan hingga lima kali untuk memastikan korban tak lagi bernyawa, sebelum akhirnya jasad Dumaris diseret ke kamar mandi untuk menutupi jejak.
Jejak Pelarian yang Berakhir di Tangan Hukum
Aksi para pelaku tergolong sangat terorganisir. Mereka bahkan menyewa kendaraan khusus dari Aceh untuk menuju Pekanbaru guna melancarkan aksinya. Namun, kecanggihan teknologi dan kejelian tim kriminal Pekanbaru dalam menganalisis rekaman CCTV menjadi kunci utama dalam memburu para pelaku yang sempat melarikan diri.
Dumaris Boru Sitio pertama kali ditemukan bersimbah darah oleh suaminya sendiri, Salmon Mena, pada Rabu (29/4) siang di kediaman mereka di Kecamatan Rumbai. Kini, keempat tersangka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan hukum, menghadapi jeratan pasal pembunuhan berencana yang mengancam hukuman berat.
Kisah ini menjadi pengingat pahit tentang bagaimana ketamakan dan konflik internal keluarga bisa berujung pada tragedi yang tak terbayangkan. Publik kini menanti proses persidangan untuk melihat keadilan ditegakkan bagi almarhumah Dumaris. Tetap pantau berita terkini hanya di Kabarmalam.com untuk perkembangan kasus ini selanjutnya.