Ikuti Kami
kabarmalam.com

Geger Video ‘Skandal Moral’ Amien Rais: Komdigi Sebut Pembunuhan Karakter, Partai Ummat Sebut ‘Offside’

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 03 Mei 2026 06:05 WIB
Geger Video 'Skandal Moral' Amien Rais: Komdigi Sebut Pembunuhan Karakter, Partai Ummat Sebut 'Offside'

Kabarmalam.com — Jagat maya baru-baru ini diguncang oleh narasi tajam yang dilontarkan tokoh senior politik, Amien Rais. Melalui sebuah unggahan video di kanal YouTube resminya, Ketua Majelis Syura Partai Ummat tersebut melayangkan tuduhan serius yang menyeret nama Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. Meski video bertajuk ‘JAUHKAN ISTANA DARI SKANDAL MORAL’ tersebut kini telah raib dari peredaran, riaknya terlanjur menciptakan kegaduhan di ruang publik.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tidak tinggal diam melihat sebaran konten tersebut. Menkomdigi Meutya Hafid dengan tegas melabeli video itu sebagai bentuk pembunuhan karakter yang tidak berdasar. Menurut Meutya, narasi yang dibangun bukan lagi sekadar kritik politik, melainkan serangan personal yang berpotensi merusak stabilitas nasional.

Komdigi: Narasi Fitnah dan Ujaran Kebencian

Dalam keterangannya, Meutya Hafid mengungkapkan bahwa tim Komdigi telah mengidentifikasi video tersebut sebagai konten yang memuat hoaks dan fitnah. Ia menekankan bahwa kebebasan berpendapat di era digital seharusnya menjadi ajang adu gagasan, bukan wadah untuk memproduksi konten kebencian.

Baca Juga  Janji Prabowo dari Ujung Utara: Renovasi Total Puskesmas Miangas yang Tak Tersentuh Sejak Era Soeharto

“Video tersebut merupakan upaya merendahkan martabat Pimpinan Tertinggi Negara tanpa landasan fakta. Ini adalah provokasi yang sangat berbahaya bagi persatuan bangsa,” ujar Meutya. Ia juga mengingatkan adanya konsekuensi hukum bagi pihak-pihak yang sengaja menyebarkan narasi tersebut, merujuk pada UU ITE Nomor 1 Tahun 2024 terkait penyebaran informasi yang menyerang martabat seseorang.

Relawan Prabowo Siap Menempuh Jalur Hukum

Reaksi keras juga datang dari loyalis Presiden. Kelompok relawan Arus Bawah Prabowo (ABP) menilai pernyataan Amien Rais sudah melampaui batas kewajaran demokrasi. Ketua DPP ABP, Supriyanto, menyebut tuduhan tersebut sebagai bentuk agitasi dan halusinasi politik yang sangat menyesatkan.

“Ini bukan lagi kritik, melainkan serangan personal yang serampangan. Menyeret isu moralitas tanpa bukti adalah tindakan keji. Kami sedang mempertimbangkan langkah hukum karena ini jelas merupakan pembunuhan karakter terhadap Prabowo Subianto dan Teddy Indra Wijaya,” tegas Supriyanto dalam pernyataan resminya.

Baca Juga  Gus Ipul Gandeng Seskab Teddy Jadi Duta Sekolah Rakyat, Bidik Peningkatan Literasi Masyarakat Marjinal

Suara Sumbang dari Internal Partai Ummat

Menariknya, sikap Amien Rais ternyata tidak sepenuhnya diamini oleh internal partai yang ia dirikan sendiri. Ketua DPP Partai Ummat, Aznur Syamsu, secara mengejutkan menyebut tindakan Amien Rais sebagai langkah yang ‘offside’. Aznur menegaskan bahwa pernyataan dalam video tersebut merupakan opini pribadi dan tidak mewakili sikap resmi partai.

“Kami sangat menyayangkan pernyataan tersebut. Sebagai tokoh yang pernah besar di masa reformasi, langkah ini terasa tidak relevan dengan persoalan bangsa saat ini. Pak Amien sudah offside,” kata Aznur dengan nada kecewa.

Di sisi lain, Ketua Umum Partai Ummat, Ridho Rahmadi, mencoba mengambil jalan tengah. Meski mempersilakan pihak-pihak yang merasa dirugikan untuk menempuh jalur hukum, Ridho menilai pernyataan Amien Rais adalah bentuk kegelisahan seorang sahabat lama terhadap kondisi negeri.

Baca Juga  Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan Tegaskan Zero Tolerance: Tak Ada Ruang Kompromi Narkoba bagi Personel

“Beliau menyampaikan hal itu dengan gaya lugas khasnya. Ini adalah bentuk kepedulian, meski mungkin cara penyampaiannya memicu pro dan kontra. Namun, kami berharap hukum tidak digunakan sebagai alat pukul politik yang tebang pilih,” pungkas Ridho.

Hingga berita ini diturunkan, publik masih menanti apakah polemik ini akan berlanjut ke meja hijau atau berakhir sebagai riak politik musiman di tengah dinamika pemerintahan yang baru berjalan.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul