Transformasi Komunikasi KLH/BPLH: Menguasai Narasi di Era Jurnalistik ‘Klik dan Geser’
Senin, 06 Jul 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah sejuknya suasana Wisma PGN Diklat Megamendung, Bogor, Jawa Barat, sebuah transformasi besar tengah disiapkan bagi garda depan komunikasi lingkungan. Memasuki hari ketiga pada 2 Juli 2026, rangkaian program The Classroom Batch 2 semakin intensif membekali tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dengan amunisi teknik jurnalistik yang adaptif terhadap dinamika era digital.
Semangat untuk melepaskan diri dari zona nyaman menjadi ruh dalam kegiatan ini. Kapokja Komunikasi Informasi dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, Romi Setiawan, menekankan pentingnya bagi para aparatur negara untuk tidak menjadi ‘katak dalam tempurung’. Menurutnya, memahami perkembangan komunikasi di luar institusi adalah kunci agar pesan-pesan pelestarian lingkungan dapat tersampaikan secara efektif kepada publik luas.
Evolusi dari Redaktur ke Algoritma
Menghadirkan sesi eksklusif bertajuk ‘NewsCraft+’, pelatihan ini menghadirkan Angga Aliya ZRF, sosok senior yang menjabat sebagai Redaktur Pelaksana detikFinance. Dalam materi ‘Jurnalistik di Era Click, Swipe & Scroll’, Angga memaparkan betapa drastisnya perubahan lanskap media. Jika dulu informasi sepenuhnya dikendalikan oleh kebijakan editor (editor-driven), kini arus informasi sangat ditentukan oleh preferensi audiens (audience-driven).
“Dulu, editor memiliki kuasa penuh menentukan mana berita yang layak tayang di halaman depan. Namun sekarang, kita berada di era algoritma. Audiens tidak lagi aktif mencari berita, melainkan disuguhi informasi berdasarkan perilaku digital mereka,” urai Angga. Kondisi ‘bubble informasi’ ini menuntut tim humas untuk lebih kreatif dalam meramu strategi konten agar tetap relevan di tengah banjir informasi.
Menulis dengan Hati, Mengemas dengan Data
Meskipun teknologi berubah, Angga menegaskan bahwa fondasi jurnalistik tetap tidak tergoyahkan. Unsur 5W+1H, penggunaan bahasa yang sederhana, serta validasi data tetap menjadi pilar utama. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat berita yang mampu menangkap perhatian audiens dalam hitungan detik tanpa mengabaikan akurasi.
Selain teknik penulisan, sesi ini juga menyentuh aspek krusial mengenai manajemen krisis. Di era digital yang serba cepat, keterlambatan merespons isu atau ketidakakuratan data sekecil apa pun dapat berdampak fatal pada reputasi lembaga. Kecepatan dan ketepatan timing dalam menyampaikan klarifikasi menjadi penentu dalam meredam potensi krisis operasional.
Praktik Langsung dan Antusiasme Peserta
Tidak sekadar teori, para peserta yang berasal dari berbagai unit eselon II KLH/BPLH—mulai dari bidang pengendalian perubahan iklim hingga pengelolaan sampah—ditantang untuk melakukan bedah kasus. Mereka diminta merombak berita lama dengan sudut pandang (angle) baru yang lebih segar dan menarik bagi pembaca masa kini.
Zeezilia Yusuf, salah satu peserta, mengaku mendapatkan sudut pandang baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. “Selama tiga hari ini, kami belajar banyak tentang branding dan cara mengemas informasi agar tidak sekadar menjadi laporan administratif, tapi menjadi karya jurnalistik yang bermakna bagi masyarakat,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan oleh Danang Budi Santoso, peserta terbaik pada batch kali ini. Ia mengapresiasi materi yang sangat aplikatif untuk diterapkan di satuan kerja masing-masing. Pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan tenaga humas yang handal dalam mengomunikasikan kebijakan lingkungan hidup secara persuasif dan berdampak luas.
Program The Classroom Batch 2 ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan batch pertama, dengan total partisipan mencapai puluhan perwakilan dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Sumatera dan Kalimantan. Melalui kolaborasi ini, KLH/BPLH optimistis mampu membangun jembatan komunikasi yang lebih kokoh dengan masyarakat di era digital.