Ikuti Kami
kabarmalam.com

Guncangan Geopolitik di Pasifik: Uji Coba Rudal China Memicu Protes Keras dari Australia hingga Jepang

Husnul | kabarmalam.com
Senin, 06 Jul 2026 16:34 WIB
Guncangan Geopolitik di Pasifik: Uji Coba Rudal China Memicu Protes Keras dari Australia hingga Jepang

Kabarmalam.com — Ketenangan di perairan Pasifik Selatan mendadak terusik oleh unjuk kekuatan militer terbaru dari Beijing. China secara resmi melakukan uji coba peluncuran rudal balistik jarak jauh yang meluncur membelah langit Samudra Pasifik, sebuah langkah yang langsung memicu gelombang kekhawatiran dan protes keras dari negara-negara tetangga di kawasan tersebut.

Australia memimpin kecaman dengan menyebut aktivitas militer ini sebagai tindakan yang “mengganggu stabilitas” kawasan. Tak hanya Canberra, Jepang dan Selandia Baru pun turut menyuarakan kegelisahan mereka atas eskalasi kekuatan yang ditunjukkan oleh Negeri Tirai Bambu tersebut di wilayah yang selama ini dianggap sebagai zona krusial bagi keamanan internasional.

Latihan Rutin atau Pesan Tersembunyi?

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh kantor berita resmi China, Xinhua, Angkatan Laut militer China mengonfirmasi bahwa salah satu kapal selam strategis mereka telah “berhasil” meluncurkan rudal strategis pada Senin (6/7) siang, sekitar pukul 12.01 waktu setempat. Rudal yang membawa hulu ledak tiruan tersebut jatuh di area laut lepas yang telah ditentukan di Samudra Pasifik.

Baca Juga  AHY Tekankan Sinergi Strategis Pemerintah dan Kampus: Dari Riset UGM Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Pihak Beijing berkilah bahwa peluncuran ini hanyalah bagian dari latihan militer tahunan yang bersifat rutin. Mereka menegaskan bahwa agenda tersebut tidak ditargetkan kepada negara atau sasaran tertentu, serta mengklaim telah memberikan pemberitahuan awal kepada negara-negara terkait sebelum peluncuran dilakukan.

Reaksi Keras Penny Wong dari Suva

Meski Beijing mengklaim telah memberikan notifikasi, hal itu tidak menyurutkan reaksi keras dari Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong. Berbicara di sela-sela kunjungannya di Suva, Fiji, Wong menegaskan bahwa tindakan China ini sangat kontradiktif dengan harapan akan kawasan Pasifik yang damai.

“Australia telah menyampaikan dengan tegas kepada China bahwa kami memandang langkah ini sebagai bentuk gangguan terhadap stabilitas kawasan,” ujar Wong di hadapan media. Ia menyoroti bahwa peningkatan kekuatan militer China yang sangat pesat tidak dibarengi dengan transparansi yang memadai, sehingga menimbulkan kecurigaan mengenai niat di balik aktivitas tersebut.

Baca Juga  Kepanikan di RS Samaritan Palu Saat Gempa M 6,7 Melanda, Evakuasi Pasien Berlangsung Dramatis

Menariknya, konfirmasi uji coba rudal ini muncul hanya beberapa jam setelah Australia dan Fiji menandatangani pakta aliansi pertahanan bersejarah. Perjanjian tersebut memuat komitmen kedua negara untuk saling membela jika terjadi serangan fisik, sebuah langkah yang sering dianggap sebagai upaya untuk membendung pengaruh China di Pasifik.

Jepang dan Selandia Baru Turut Meradang

Sentimen serupa juga datang dari Tokyo. Pemerintah Jepang menyatakan kekhawatiran mendalam atas aktivitas militer China yang kian agresif. Meskipun telah menerima pemberitahuan awal, otoritas Jepang sempat mendesak Beijing untuk mempertimbangkan kembali langkah yang dinilai provokatif tersebut.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, menggambarkan peluncuran rudal ini sebagai sebuah “perkembangan yang tidak diinginkan dan mengkhawatirkan.”

Baca Juga  Rayakan Hari Bhayangkara ke-80, Mensos Gus Ipul Beri Apresiasi Khusus Atas Dukungan Polri pada Program Sekolah Rakyat

“Selandia Baru, bersama dengan negara-negara tetangga di Pasifik lainnya, tidak ingin melihat wilayah Pasifik Selatan dijadikan sebagai lokasi uji coba kemampuan rudal. Kami sangat menyesalkan langkah ini,” tegas Peters dengan nada bicara yang serius.

Rentetan protes ini menunjukkan betapa sensitifnya dinamika keamanan di Pasifik saat ini, di mana setiap pergerakan militer berkekuatan besar akan langsung direspons dengan kewaspadaan tinggi oleh negara-negara di sekitarnya.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul