Seni Komunikasi Hijau: Strategi KLH/BPLH Ubah Isu Lingkungan Rumit Jadi Konten Media Sosial yang Berdampak
Minggu, 21 Jun 2026 14:34 WIB
Kabarmalam.com — Membangun citra di jagat digital saat ini bukan lagi sekadar soal estetika visual, melainkan tentang bagaimana konsistensi pesan mampu menyentuh sisi emosional audiens. Menyadari hal tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengambil langkah progresif dengan mempertajam taring dalam pengelolaan media sosial melalui sesi BrandLab dalam workshop ‘The Classroom KLH’.
Bertempat di suasana sejuk Wisma PGN Megamendung, Bogor, para punggawa humas kementerian ini dibekali strategi branding mutakhir oleh Karel Anderson, Head of Brand Communication detikcom. Dalam pemaparannya, Karel menekankan bahwa keberhasilan sebuah institusi di ranah digital tidak diukur dari seberapa masif konten diproduksi, melainkan seberapa kuat keterhubungan yang tercipta dengan masyarakat melalui narasi yang relevan.
Bukan Sekadar Mengejar Viral, Tapi Menyampaikan Hal Vital
Dunia media sosial seringkali menjebak pengelola konten dalam perlombaan mengejar angka viralitas. Namun, Karel memberikan perspektif berbeda. Baginya, tugas humas bukan sekadar memaksa publik menatap layar, melainkan membuat audiens merasa bahwa isu yang diangkat adalah bagian dari hidup mereka sendiri.
“Banyak yang berpikir bahwa tujuan akhir media sosial adalah viral. Padahal, esensi sebenarnya adalah bagaimana kita menyampaikan hal vital dari pesan tersebut secara efektif. Kita ingin publik merasa bahwa isu lingkungan ini adalah isu mereka juga,” ungkap Karel dalam sesi diskusi yang berlangsung hangat pada Jumat (19/6/2026).
Karel mengajak para peserta untuk ‘mengaku dosa’ atas kesalahan-kesalahan branding yang sering dilakukan di masa lalu. Dengan kesadaran tersebut, diharapkan tim humas mampu bertransformasi dan melahirkan konten-konten yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Tantangan Menerjemahkan Bahasa Teknis Lingkungan
Menyampaikan pesan terkait lingkungan hidup memiliki tantangan tersendiri yang cukup kompleks. Kepala Biro Humas KLH/BPLH, Yulia Suryanti, mengakui bahwa jurang pemahaman antara pakar lingkungan dan masyarakat awam seringkali memicu miskomunikasi.
“Isu lingkungan harus disampaikan dengan presisi tanpa menimbulkan salah tafsir. Tantangannya adalah tingkat pemahaman yang beragam. Ada kawan-kawan dari LSM yang sangat paham teknis, namun ada masyarakat luas yang mungkin asing dengan istilah-istilah ilmiah,” jelas Yulia. Ia mencontohkan istilah ‘gas rumah kaca’ yang dampaknya dirasakan semua orang, namun tidak semua orang memahami definisinya secara teknis.
Oleh karena itu, melalui pelatihan ini, KLH mendorong para praktisi komunikasi publik untuk mampu menyederhanakan narasi yang rumit menjadi bahasa yang membumi tanpa mengurangi akurasi data. Tujuannya jelas: agar masyarakat tidak hanya sekadar tahu, tapi juga mau berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam.
Lahirnya Kreator Konten Baru di Lingkup Kementerian
Workshop ini tidak hanya berisi teori, tetapi juga menjadi ajang pembuktian kreativitas. Kelompok 1 sukses menyabet predikat juara pertama, disusul oleh Kelompok 4 dan Kelompok 2 sebagai pemenang berikutnya. Para peserta mengaku mendapatkan suntikan perspektif baru, terutama dalam hal produksi video dan penulisan kreatif.
Ratu Salma Al Khairiyah, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa materi yang didapat sangat aplikatif untuk tugas kesehariannya. “Mulai dari konsep, pengambilan gambar, hingga proses editing, semuanya sangat relevan bagi saya yang sehari-hari memang bergelut dengan konten digital,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Aulia Rahman, yang melihat peluang besar untuk menerapkan ilmu videografi ini dalam mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah. Transformasi komunikasi ini diharapkan menjadi momentum bagi KLH/BPLH untuk tampil lebih segar, komunikatif, dan menjadi rujukan utama masyarakat dalam isu-isu lingkungan di masa depan.