Prahara ‘Foto’ yang Mengguncang Hubungan Trump dan Meloni: Dari Aliansi Erat Menuju Retorika Panas
Minggu, 21 Jun 2026 14:03 WIB
Kabarmalam.com — Hubungan diplomatik yang dulunya tampak sangat harmonis antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, kini berada di titik nadir. Ketegangan mencuat ke permukaan setelah Trump melontarkan klaim kontroversial yang menyebut Meloni sempat ‘mengemis’ demi sebuah foto bersamanya. Pernyataan ini bak menyulut api dalam sekam, mengingat keduanya pernah menjadi representasi kekuatan sayap kanan yang solid di kancah global.
Awal Mula Keretakan: Diplomasi yang Berubah Menjadi Antipati
Menoleh ke belakang, pada momen pelantikan Trump untuk masa jabatan keduanya di tahun 2025, Meloni berdiri tegak sebagai satu-satunya pemimpin Eropa yang mendapat undangan istimewa untuk hadir. Namun, dalam kurun waktu satu setengah tahun, kemesraan politik tersebut menguap. Investigasi politik internasional menunjukkan bahwa perpecahan ini bukan sekadar urusan ego, melainkan akumulasi dari perbedaan pandangan strategis yang tajam.
Pemicu utamanya adalah meletusnya perang antara Amerika Serikat-Israel di Iran yang berdampak sistemik terhadap ekonomi Eropa. Di Italia, sentimen anti-perang menguat, memaksa Meloni untuk mengambil jarak dari kebijakan luar negeri Washington yang agresif. Harapan untuk rekonsiliasi sebenarnya sempat membuncah menjelang KTT G7 di Prancis, namun klaim Trump di sebuah televisi Italia mengenai insiden ‘foto’ tersebut justru menghancurkan segala upaya diplomasi yang ada.
Tuduhan ‘Mengemis’ dan Jawaban Menohok dari Roma
“Ada satu hal yang harus dia ingat: baik saya maupun Italia tidak pernah memohon,” tegas Meloni dengan nada bicara yang dingin namun penuh penekanan. Ia menuduh Donald Trump telah mengarang cerita untuk merendahkan martabatnya. Meloni bahkan melontarkan kritik pedas dengan menyebut bahwa Trump kini tampak lebih menaruh hormat pada musuh-musuh Barat ketimbang pada sekutu lamanya sendiri.
Padahal, pada awal 2024, Trump tidak segan-segan menghujani Meloni dengan pujian selangit, menyebutnya sebagai sosok pemimpin yang fantastis dan inspiratif. Namun, dinamika berubah total ketika Meloni mulai menunjukkan taringnya dalam membela kepentingan nasional Italia, termasuk dukungannya terhadap Paus Leo yang mengkritik konflik Iran, serta penolakannya terhadap penggunaan pangkalan udara di Sisilia oleh militer AS.
Reaksi Keras Kabinet Italia: Solidaritas untuk Meloni
Gelombang pembelaan terhadap Giorgia Meloni datang bertubi-tubi dari Roma. Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, secara mendadak membatalkan kunjungan resminya ke Amerika Serikat sebagai bentuk protes. Langkah tegas ini diambil setelah ia menilai ucapan Trump sebagai penghinaan serius yang menyinggung kedaulatan Italia.
Dukungan juga mengalir dari berbagai lini pemerintahan. Menteri Pertahanan Guido Crosetto menyatakan ketidakpercayaannya bahwa Meloni akan meminta foto kepada siapa pun, bahkan di bawah ancaman sekalipun. Sementara itu, Menteri Kehakiman Carlo Nordio memberikan perspektif sejarah yang mendalam melalui media sosialnya, mengingatkan bahwa pengorbanan tentara Amerika di masa lalu tidak seharusnya dicederai oleh retorika yang merusak ikatan persaudaraan kedua negara.
Dampak Domestik dan Strategi Politik ke Depan
Menurut analisis para pengamat dari Policy Sonar, langkah Meloni yang berani menentang Trump mungkin akan memberikan keuntungan elektoral di dalam negeri, mengingat popularitas Trump yang cenderung rendah di mata publik Italia saat ini. Namun, hal ini tetap menjadi perjudian besar bagi narasi politik Meloni menjelang pemilihan tahun depan.
Situasi ini menjadi bukti nyata betapa rapuhnya aliansi politik di panggung hubungan luar negeri ketika kepentingan nasional dan ego pribadi mulai berbenturan. Kini, publik dunia menantikan apakah kedua tokoh ini mampu meredam ego mereka atau justru membiarkan hubungan AS-Italia terus terperosok ke dalam jurang permusuhan yang lebih dalam.