Melihat Sisi Lain Nusakambangan: Titiek Soeharto Puji Kemandirian Napi dalam Budidaya Udang Vaname
Minggu, 21 Jun 2026 01:04 WIB
Kabarmalam.com — Wajah Pulau Nusakambangan yang dulunya identik dengan kesan angker dan sunyi, kini perlahan bersalin rupa menjadi pusat produktivitas yang menjanjikan. Suasana hangat menyelimuti kawasan Bantar Panjang saat Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, meninjau langsung aktivitas panen udang Vaname di pulau penjara tersebut.
Dalam kunjungannya pada Sabtu (20/6), Titiek tidak hanya sekadar melihat hasil panen, tetapi juga terjun langsung menyapa para warga binaan yang menjadi motor penggerak di balik tambak-tambak produktif tersebut. Sebuah dialog humanis tercipta ketika putri Presiden ke-2 RI ini melontarkan pertanyaan sederhana namun mendalam mengenai rutinitas para narapidana sebelum adanya program ketahanan pangan ini.
Sentuhan Kemanusiaan di Balik Jeruji
“Yang mengerjakan budidaya udang ini mas-mas warga binaan, ya? Biasanya kalau di dalam lapas, sebelum ada program ini, kegiatannya apa saja?” tanya Titiek dengan nada akrab. Jawaban jujur mengalir dari salah satu napi yang mengaku sebelumnya tidak memiliki kesibukan berarti. Namun, wajah-wajah lesu itu kini berganti semangat sejak dipercaya mengelola aset alam yang ada.
Titiek pun tampak antusias saat mengetahui bahwa para narapidana mendapatkan upah atau premi sebesar Rp25.000 per hari dari hasil keringat mereka. Dengan estimasi pendapatan mencapai Rp750.000 per bulan, program ini dianggap menjadi oase bagi mereka untuk menabung bekal saat kembali ke masyarakat nanti.
“Alhamdulillah, di samping ada kesibukan, kalian juga dapat premi. Lumayan sekali untuk tabungan,” ujar Titiek memberikan apresiasi.
Transformasi Lahan Tidur Jadi Lumbung Ekonomi
Langkah progresif ini tidak lepas dari visi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto. Sejak dilantik, ia berkomitmen mengubah citra lembaga pemasyarakatan melalui program ketahanan pangan. Berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai banyaknya aset lahan tidur, Agus bergerak cepat mengalihfungsikan lahan tersebut menjadi Balai Latihan Kerja (BLK) yang modern.
Di kawasan Nusakambangan sendiri, transformasi ini terlihat nyata dari luas lahan budidaya udang Vaname yang mencapai 20 hektare dengan 20 kolam aktif yang menampung 11 juta benur. Bahkan, sepanjang awal tahun 2025 saja, Nusakambangan telah berhasil mencatatkan rekor panen hingga 165 ton udang pada siklus pertama.
Menteri Agus juga menjanjikan insentif lebih bagi para warga binaan. “Jika hasil produksinya terus meningkat dan kualitasnya terjaga, kami akan memberikan bonus tambahan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras mereka,” tegas Agus di hadapan rombongan Komisi IV DPR RI.
Lebih dari Sekadar Tambak Udang
Program pemberdayaan di Nusakambangan ternyata tidak berhenti di sektor perikanan. Seolah ingin membuktikan bahwa penjara bisa menjadi tempat lahirnya keterampilan baru, berbagai workshop kini telah berdiri tegak. Mulai dari produksi batako dan paving block berbahan limbah FABA, BLK konveksi yang menghasilkan produk berkualitas, hingga pengolahan pupuk organik.
Warga binaan juga dibekali keahlian di bidang peternakan sapi dan domba, budidaya ikan Sidat, hingga sektor kreatif seperti budidaya anggrek dan pengolahan kopi Mocaf. Harapannya, keterampilan yang mereka asah selama masa tahanan akan menjadi modal utama agar mereka tidak lagi terjerumus dalam tindak kriminalitas setelah bebas nanti. Nusakambangan kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan wadah bagi mereka yang ingin pulang dengan martabat dan keahlian baru.