Ikuti Kami
kabarmalam.com

Gebrakan Tajam Trump: Klaim Israel Bakal Hancur Lebur Tanpa Dukungan Penuh Amerika Serikat

Husnul | kabarmalam.com
Sabtu, 20 Jun 2026 21:35 WIB
Gebrakan Tajam Trump: Klaim Israel Bakal Hancur Lebur Tanpa Dukungan Penuh Amerika Serikat

Kabarmalam.com — Gejolak politik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan yang cukup menggetarkan panggung diplomasi internasional. Dengan gaya bicaranya yang lugas dan penuh percaya diri, Trump mengeklaim bahwa eksistensi Israel saat ini sangat bergantung pada dukungannya. Tanpa intervensi dan bantuan dari Washington di bawah kendalinya, ia memprediksi Israel akan berada dalam kondisi yang sangat rapuh, bahkan hingga “hancur lebur”.

Pernyataan kontroversial ini muncul dalam sebuah wawancara eksklusif bersama media Axios. Trump tidak hanya menyoroti soal bantuan militer, tetapi juga mengeklaim memiliki kendali personal atas langkah-langkah strategis yang diambil oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia bahkan merasa perlu untuk menjaga agar sang pemimpin Israel tersebut tetap berada pada jalur yang “waras”, terutama terkait eskalasi yang terjadi dalam konflik Lebanon.

Superioritas Militer dan Klaim Kendali Atas Tel Aviv

Trump menegaskan bahwa selama ini para pejabat di Tel Aviv selalu mengikuti arahannya. Ia merujuk pada penyediaan alutsista canggih, mulai dari persenjataan infanteri hingga pesawat pengebom strategis B-2 yang menjadi tulang punggung kekuatan militer Amerika Serikat di mata dunia. Menurutnya, tanpa akses terhadap teknologi dan perlindungan tersebut, posisi Israel akan sangat terancam.

Baca Juga  Bara Api di Timur Tengah: Diplomasi Buntu, AS dan Iran Terjebak dalam Siklus Serangan Balik

“Jika bukan karena Donald Trump, Israel sudah hancur lebur. Bibi Netanyahu bekerja sama dengan sangat baik dengan saya, dan dia pasti mengakui bahwa kamilah yang memegang kendali atas semua kesepakatan dan persenjataan hebat itu,” tegas Trump sebagaimana dikutip dari laporan Anadolu Agency dan New York Post.

Narasi ini seolah mempertegas posisi Trump yang ingin menunjukkan betapa krusialnya peran Amerika Serikat di bawah kepemimpinannya dalam menjaga stabilitas negara sekutunya tersebut. Ia bahkan mengklaim mampu mencegah Israel untuk tidak bertindak gegabah terhadap Hizbullah demi menjaga integritas kesepakatan damai dengan Iran yang tengah diupayakan.

Respon Keras dari Internal Pemerintahan Israel

Namun, klaim superioritas Trump ini tidak ditelan mentah-mentah oleh kabinet Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, segera memberikan reaksi tandingan yang tak kalah tajam. Katz menegaskan bahwa Israel adalah negara berdaulat yang memiliki kemampuan mandiri untuk menghadapi musuh-musuhnya di berbagai front, baik itu melawan Hizbullah di Lebanon, milisi di Suriah, hingga Hamas di Jalur Gaza.

Baca Juga  Barron Trump Rambah Dunia Bisnis, Minuman Energi SOLLOS Jadi Sorotan dan Tuai Kontroversi Harga

“Tidak ada yang bisa mendikte apa yang harus kami lakukan. Kami telah membuktikan bahwa Israel mampu berperang sendirian tanpa meminta tentara Amerika untuk turun tangan langsung di medan tempur,” ujar Katz dalam sebuah wawancara dengan media lokal. Ia menambahkan bahwa yang diharapkan dari sekutu seperti AS adalah dukungan payung diplomatik, bukan sekadar instruksi militer.

Ketegangan di Tengah Upaya Gencatan Senjata

Situasi ini semakin rumit mengingat saat ini sedang berlangsung upaya perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Meski secara formal gencatan senjata telah diumumkan, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Israel masih terus melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Lebanon dengan dalih menargetkan infrastruktur kelompok tersebut.

Baca Juga  Tragedi Mencekam di Biak Numfor: Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II Renggut Satu Keluarga

Trump sendiri sempat menyarankan agar Netanyahu menggunakan pendekatan yang lebih halus. Ia mengkritik strategi Israel yang dianggap terlalu destruktif dengan merobohkan bangunan-bangunan pemukiman setiap kali mendeteksi keberadaan anggota Hizbullah. Kritik serupa juga datang dari Wakil Presiden AS, JD Vance, yang mengecam sikap keras kepala beberapa pejabat Israel. Vance memperingatkan bahwa menyerang satu-satunya sekutu terkuat di dunia adalah langkah hubungan diplomatik yang sangat berisiko bagi masa depan Tel Aviv.

Perseteruan retorika antara Washington dan Tel Aviv ini menjadi sinyal kuat bahwa dinamika geopolitik Timur Tengah sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan, di mana ego para pemimpin negara sering kali berbenturan dengan realitas perdamaian di lapangan.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul