Kisah Inspiratif Aldo Riski: Dari Percikan Las Ponorogo Menuju Ambisi Besar ke Negeri Sakura
Sabtu, 20 Jun 2026 20:34 WIB
Kabarmalam.com — Aroma logam yang terpanggang dan kilatan cahaya kebiruan dari ujung stang las pernah menjadi teman setia dalam keseharian Aldo Riski Saputra. Pemuda berusia 16 tahun ini bukanlah remaja biasa; tangannya sudah terampil menyatukan besi menjadi pagar, kanopi, hingga rak makanan yang kokoh. Namun, di balik kemahirannya mengolah baja, tersimpan sebuah narasi tentang perjuangan menemukan kembali arah hidup yang sempat kehilangan arah.
Terhempas dari Jalur Formal
Dua tahun silam, langkah kaki Aldo sempat terhenti dari bangku sekolah formal. Saat masih duduk di kelas 2 SMPN 2 Sampung, Ponorogo, ia terperangkap dalam lingkaran pergaulan yang keliru. Kebiasaan membolos, nongkrong hingga larut, dan merokok membuatnya mengumpulkan poin pelanggaran yang tak lagi bisa ditoleransi. Akhirnya, pintu sekolah tertutup baginya.
“Waktu itu saya benar-benar salah pergaulan. Ikut-ikut teman yang tidak jelas tujuannya,” kenang Aldo saat berbagi cerita mengenai masa kelamnya tersebut. Putus sekolah di usia yang sangat belia memaksa Aldo untuk dewasa lebih cepat dan terjun ke dunia kerja demi menyambung hidup.
Bertaruh Nyawa di Bengkel Las
Tanpa ijazah, Aldo memilih bekerja di bengkel las milik tetangganya. Ia bahkan sempat merantau jauh ke Mojokerto dan Malang untuk memasang banner di pinggir jalan raya—sebuah pekerjaan yang penuh risiko. Belajar secara autodidak tanpa alat pelindung diri yang memadai, mata Aldo sering menjadi korban percikan api las.
“Mata saya sering ‘kecolongan’ percikan las sampai bengkak dan tidak bisa melihat selama beberapa hari. Itu terjadi lebih dari tiga kali,” tuturnya. Meski penuh risiko, ia berhasil mandiri secara finansial. Dari hasil mengelas pagar dalam seminggu, ia bisa mengantongi Rp600 ribu—jumlah yang cukup besar bagi remaja seusianya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Aldo menyadari bahwa keterampilan teknis saja tidaklah cukup tanpa bekal pendidikan yang kuat.
Menemukan Cahaya di Sekolah Rakyat Terintegrasi
Titik balik kehidupan Aldo muncul ketika ia mendengar kabar tentang Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo. Lembaga ini menjadi oase bagi anak-anak yang ingin memperbaiki nasib setelah sempat putus sekolah. Aldo mengambil keputusan berani: meninggalkan penghasilan ratusan ribu rupiah demi kembali mengenakan seragam sekolah.
Kini, Aldo tercatat sebagai siswa kelas 2 SMP di SRT 5 Ponorogo. Walau kantongnya tak lagi setebal saat ia bekerja borongan, ia merasa jauh lebih tenang. “Rasanya memang beda karena sekarang tidak pegang uang sendiri. Tapi di sini semuanya sudah dijamin, mulai dari makan hingga perlengkapan mandi. Saya merasa ada yang membimbing,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Mimpi Besar: Mengelas di Bawah Laut Jepang
Di bawah asuhan para pendidik di SRT, Aldo bertransformasi menjadi pribadi yang aktif. Hobinya kini beralih ke pelajaran IPS dan olahraga voli. Pihak sekolah pun sangat mendukung bakat teknisnya dengan rencana membangun bengkel las khusus di area sekolah agar Aldo bisa terus mengasah kemampuannya sekaligus mengajar rekan-rekannya.
Namun, ambisi Aldo tidak berhenti di Ponorogo. Ia membidik Negeri Sakura sebagai pelabuhan masa depannya. Aldo berencana melanjutkan ke jenjang SMA dan mengambil kursus bahasa Jepang. Ia tahu betul bahwa Jepang membutuhkan tenaga ahli las yang bersertifikat.
“Saya ingin mempelajari teknik underwater welding (las bawah laut). Jepang punya peluang besar untuk itu,” ucapnya penuh optimisme. Motivasi terbesarnya bukanlah sekadar kemegahan kota-kota di Jepang, melainkan janji tulus kepada orang tuanya. “Cita-cita saya hanya ingin membahagiakan bapak dan ibu. Ingin memberangkatkan mereka naik haji,” pungkas Aldo menutup pembicaraan.