Klaim Berani Donald Trump: Sebut Israel Bakal Hancur Lebur Tanpa Dukungannya
Sabtu, 20 Jun 2026 15:04 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah tensi geopolitik yang kian memanas, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial yang mengguncang panggung diplomasi internasional. Dengan gaya bicaranya yang lugas, Trump menegaskan bahwa eksistensi Israel sangat bergantung pada dukungannya. Ia bahkan tak segan menyebut bahwa tanpa campur tangannya, negara zionis tersebut akan “hancur lebur” menghadapi berbagai ancaman di kawasan.
Dalam sebuah sesi wawancara eksklusif dengan Axios yang dikutip oleh tim Kabarmalam.com, Trump memaparkan betapa besarnya pengaruh Washington di bawah kepemimpinannya terhadap kebijakan militer Tel Aviv. Ia mengklaim memiliki kendali penuh atas langkah-langkah strategis yang diambil Israel, termasuk dalam menghadapi ketegangan di perbatasan Lebanon. Trump beranggapan bahwa para pejabat tinggi di Israel cenderung menuruti arahannya karena rasa hormat yang besar terhadap kekuasaan Amerika Serikat.
Superioritas Militer AS sebagai Tameng Utama
Trump tidak hanya sekadar menggertak. Ia merujuk pada pasokan persenjataan canggih dan armada tempur udara yang menjadi tulang punggung pertahanan Israel. Menurutnya, keberadaan pesawat pengebom strategis seperti B-2 dan berbagai kesepakatan militer kelas berat adalah bukti nyata bahwa Israel sulit berdiri sendiri. “Jika bukan karena Donald Trump, Israel akan hancur lebur,” tegasnya dengan nada penuh peringatan.
Sentimen ini memperkuat pernyataannya sebelumnya yang menekankan bahwa tanpa sokongan penuh dari Gedung Putih, eksistensi negara tersebut terancam sirna. Hubungannya dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pun digambarkan secara unik; meski mengaku menjalin hubungan yang baik, Trump merasa perlu untuk terus memastikan bahwa Netanyahu tetap berada pada jalur yang “waras”, terutama saat menangani isu sensitif terkait Lebanon.
Kritik Pedas Terhadap Kelompok Garis Keras
Di sisi lain, Trump secara terbuka mengungkapkan rasa kecewanya terhadap kalangan garis keras di Israel. Ia mengaku telah kehilangan rasa hormat terhadap pihak-pihak yang terus mendorong konfrontasi militer terbuka melawan Iran. Fokus Trump saat ini tampaknya lebih condong pada stabilitas melalui negosiasi daripada perang yang berkepanjangan.
Menariknya, Trump juga mengklaim dirinya mampu mencegah eskalasi serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon demi menjaga peluang perdamaian dengan Iran. “Mereka melakukan apa yang saya katakan,” ucapnya penuh percaya diri. Hal ini sejalan dengan permintaannya kepada Netanyahu agar menggunakan pendekatan yang lebih lunak dan tidak memborbardir permukiman sipil setiap kali ada ancaman kecil muncul.
Dinamika di Lebanon dan Gencatan Senjata
Pernyataan Trump ini muncul di tengah momentum perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan milisi Hizbullah. Meski gencatan senjata telah diumumkan secara resmi, laporan di lapangan menunjukkan bahwa gesekan senjata masih sesekali terjadi. Trump mengingatkan bahwa konflik Timur Tengah memerlukan akal sehat, bukan sekadar unjuk kekuatan yang menghancurkan infrastruktur publik tanpa pertimbangan matang.
Kini, publik menanti apakah pengaruh Trump benar-benar sekuat yang ia klaim, ataukah ini hanya bagian dari strategi komunikasinya dalam memetakan ulang peta politik di kawasan paling bergejolak di dunia tersebut.