Fokus Efisiensi, Badan Gizi Nasional Resmi Moratorium Pendaftaran Dapur Makan Bergizi Gratis
Kamis, 04 Jun 2026 19:05 WIB
Kabarmalam.com — Langkah besar diambil oleh nakhoda baru Badan Gizi Nasional (BGN) dalam mengawal keberlangsungan program unggulan pemerintah. Guna memastikan tata kelola yang lebih ramping dan tepat sasaran, BGN secara resmi mengumumkan penghentian sementara atau moratorium pendaftaran dapur baru untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari strategi besar efisiensi anggaran serta penataan ulang peta distribusi nasional.
Langkah Strategis Menuju Efisiensi Maksimal
Kepala BGN, Nanik S. Deyang, dalam sebuah pertemuan di Jakarta, menegaskan bahwa fokus utama lembaga saat ini adalah memastikan setiap rupiah dari APBN memberikan dampak nyata. Menurutnya, rencana kerja yang tengah disusun kini bermuara pada penghematan tanpa mengabaikan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Hal utama yang telah kami bahas dan kami siapkan rencana kerjanya adalah menuju pada efisiensi anggaran,” ujar Nanik secara transparan dalam konferensi pers di Gedung BGN, Jakarta.
Empat Pilar Transformasi Program MBG
Dalam upaya memperbaiki implementasi di lapangan, BGN telah memetakan empat langkah krusial. Strategi pertama adalah melakukan refocusing terhadap penerima manfaat agar bantuan benar-benar sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan. Langkah kedua, yang kini menjadi sorotan, adalah moratorium pendaftaran dan pembangunan dapur di titik-titik baru.
Langkah ketiga mencakup standarisasi terhadap ribuan dapur yang sudah beroperasi saat ini. Hal ini meliputi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) agar penyajian makanan memenuhi standar nutrisi yang ketat. Terakhir, BGN berencana memperluas jangkauan ke wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dengan skema pembiayaan yang lebih inovatif dan tidak melulu bergantung pada kantong negara.
Menata 27 Ribu Dapur yang Terpusat di Perkotaan
Keputusan moratorium ini bukannya tanpa alasan kuat. Saat ini, terdapat lebih dari 27.000 unit dapur MBG yang telah beroperasi di seluruh penjuru tanah air. Namun, Nanik mengungkapkan adanya ketimpangan distribusi di mana fasilitas tersebut justru menumpuk di wilayah aglomerasi atau perkotaan.
“Kami akan beresin dulu ini. Misalnya di satu kecamatan dirasa cukup enam dapur saja, maka itu yang akan kita optimalkan. Jadi, moratorium ini diperlukan untuk mengevaluasi apakah sebaran tersebut sudah efektif,” jelasnya. Ia juga menekankan pesan Presiden agar program ini menyentuh pelosok negeri yang selama ini belum terjangkau.
Inovasi Skema di Daerah Terpencil
Bagi daerah-daerah di wilayah 3T yang jumlah penerima manfaatnya relatif kecil—seperti desa dengan hanya puluhan siswa—BGN menilai pembangunan gedung dapur baru tidaklah efisien secara ekonomi. Sebagai solusinya, lembaga ini tengah mengkaji penggunaan kantin sekolah atau fasilitas umum yang sudah ada sebagai titik produksi.
Selain itu, skema pendanaan alternatif melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dan hibah terus digodok. Dengan anggaran yang kini berada di angka Rp268 triliun setelah dilakukan penyesuaian, BGN optimistis tetap bisa memenuhi target sasaran nasional melalui manajemen yang lebih cerdas dan integratif.