Duka di Balik Melodi: Keisya Levronka Rangkai Kisah Haru Usai Sang Adik Jatuh dari Lantai 6 Kampus
Rabu, 01 Jul 2026 18:04 WIB
Kabarmalam.com — Di balik sorot lampu panggung yang gemerlap, penyanyi muda berbakat Keisya Levronka ternyata menyimpan sebuah narasi personal yang menyentuh hati. Tragedi memilukan yang menimpa adiknya, Lexi Valleno Havlenda, pada tahun 2024 silam rupanya menjadi titik balik emosional yang mendalam bagi sang pelantun lagu. Kejadian nahas di mana Lexi terjatuh dari lantai enam gedung Universitas Tarumanagara (UNTAR) tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga memantik lahirnya sebuah karya seni yang lahir dari air mata dan harapan.
Mengubah Kepedihan Menjadi Nada
Dalam sebuah kesempatan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada Rabu (1/7/2026), Keisya mengungkapkan bagaimana ia mencoba berdamai dengan keadaan melalui musik. Pelantun tembung ‘Tak Ingin Usai’ ini mengaku telah menciptakan sebuah lagu terbaru yang didedikasikan khusus untuk sang adik tercinta. Baginya, menulis lagu adalah medium penyembuhan sekaligus cara untuk mengabadikan perjuangan keluarga yang luar biasa berat.
“Aku sempat bikin lagu buat adik. Saat itu, pikiran aku benar-benar tersita oleh kondisi dia yang cukup berat. Akhirnya, aku mencoba mencari inspirasi untuk menuangkan segala kegelisahan itu ke dalam sebuah karya,” ungkap Keisya dengan nada yang tenang namun sarat makna.
Ikatan Keluarga yang Tak Tergoyahkan
Keisya menceritakan bahwa hubungannya dengan Lexi dan satu kakak laki-lakinya yang lain memang sudah sangat erat sejak mereka masih kecil. Meskipun salah satu saudaranya kini menetap di Malang karena pekerjaan, komunikasi dan dukungan moral antar saudara tetap terjaga dengan kuat di tengah masa pemulihan Lexi.
Kondisi Lexi pasca-insiden tersebut memang menuntut kesabaran ekstra. Selama berbulan-bulan, Lexi kehilangan kemandiriannya dan harus bergantung sepenuhnya pada bantuan keluarga untuk aktivitas paling dasar sekalipun. Keisya sendiri turun tangan langsung dalam merawat sang adik dengan penuh kasih sayang.
- Keterbatasan Gerak: Lexi hanya diperbolehkan miring ke satu sisi tubuhnya selama berbulan-bulan.
- Perawatan Intensif: Keisya membantu menyuapi makan hingga melakukan hal-hal kecil seperti memotong kuku karena sang adik belum mampu menunduk.
- Dukungan Emosional: Kehadiran keluarga menjadi obat utama bagi Lexi untuk tetap bertahan hidup.
“Banyak hal yang kita lakukan bersama. Mulai dari potongin kukunya karena dia nggak bisa nunduk, sampai menyuapi makan. Dia cuma boleh miring ke kiri selama berbulan-bulan, jadi praktis hanya bisa rebahan saja,” kenang Keisya menggambarkan betapa sulitnya masa-masa tersebut.
Langkah Hukum Demi Keadilan
Kini, setelah melewati masa-masa kritis, pihak keluarga memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Gugatan terhadap pihak Universitas Tarumanagara telah resmi diajukan oleh ibunda Keisya, Levi Leonita Davies. Langkah ini diambil semata-mata untuk mencari kejelasan dan keadilan atas insiden yang hampir merenggut nyawa Lexi tersebut.
Meski sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Barat sempat tertunda karena ketidakhadiran pihak kampus sebagai tergugat, keluarga tetap optimis. Mereka berharap agar kasus hukum ini dapat memberikan jawaban atas segala pertanyaan yang selama ini menggantung terkait keamanan di lingkungan universitas tersebut.