Tips Uut Permatasari Jaga Keharmonisan: Hadapi Suami Kaku dengan Sabar dan Doa
Sabtu, 27 Jun 2026 22:33 WIB
Kabarmalam.com — Membangun mahligai rumah tangga selama lebih dari sepuluh tahun bukanlah perkara mudah, terlebih jika dua insan di dalamnya memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Hal inilah yang secara terbuka dibagikan oleh pedangdut senior Uut Permatasari. Pelantun tembang ‘Putri Panggung’ ini mengisahkan dinamika unik pernikahannya dengan sang suami yang merupakan seorang perwira polisi dengan karakter yang cenderung kaku.
Di balik kemesraan yang kerap terlihat, Uut mengakui bahwa suaminya jauh dari kesan romantis. Berseberangan dengan dirinya yang memiliki sifat manja, sang suami justru seringkali merasa canggung jika dihadapkan pada situasi yang puitis atau penuh kemesraan. Namun, bagi Uut, ketidakromantisan suaminya itu justru sering membuahkan momen lucu yang menghangatkan keharmonisan rumah tangga mereka.
Siasat Unik Sang Suami Hindari Suasana Romantis
Uut menceritakan sebuah anekdot jenaka saat ia mencoba untuk bersikap manja. Bukannya membalas dengan kalimat manis, sang suami justru mengalihkan perhatian dengan permintaan yang praktis. “Sebenarnya yang manja itu saya. Tapi suami saya itu lucu kalau diajak romantis. Dia langsung bilang, ‘Ayang, coba pijetin kepala saya dong’, jadi malah mengalihkan pembicaraan,” kenang Uut sembari tertawa saat ditemui di sebuah studio televisi di kawasan Jakarta Selatan baru-baru ini.
Meski cara menunjukkan kasih sayangnya berbeda, Uut belajar untuk memahami bahwa setiap orang memiliki bahasa cinta yang unik. Baginya, memahami perbedaan karakter adalah pondasi awal agar konflik tidak berkepanjangan.
Komunikasi dan Penyerahan Diri kepada Sang Pencipta
Menghadapi kerikil dalam pernikahan, Uut memiliki prinsip yang teguh. Komunikasi dua arah selalu menjadi langkah pertama yang ia ambil. Baginya, setiap ganjalan harus segera dibicarakan dan dicari titik temunya melalui rembuk bersama. Namun, ia juga menyadari bahwa ada hal-hal yang di luar kendali manusia.
“Kalau ada sesuatu, pertama pasti saya bicarakan baik-baik. Tapi jika hal itu sudah dibahas berulang kali dan tetap terjadi, di situlah saya memilih untuk pasrah dan menyerahkannya kepada Allah,” tuturnya bijak. Menurutnya, kesabaran adalah modal utama dalam menghadapi masalah pernikahan.
Rasa Syukur di Balik Sifat Kaku
Meskipun harus berkompromi dengan sifat suami yang kaku, ada satu hal fundamental yang membuat Uut merasa sangat beruntung dan bersyukur. Selama lebih dari satu dekade bersama, sang suami tidak pernah sekali pun melakukan tindakan kasar, baik secara verbal maupun fisik.
“Beliau memang bukan orang yang romantis, tapi saya sangat bersyukur karena beliau tidak pernah marah dengan kasar apalagi sampai mengasari saya. Nilai itu jauh lebih berarti bagi saya,” tutup Uut. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak melulu soal keromantisan, melainkan soal rasa aman, saling menghargai, dan kesabaran dalam pernikahan yang tulus.