Setahun Sekolah Rakyat: Ikhtiar Pemerintah Putus Mata Rantai Kemiskinan Melalui Pendidikan
Jumat, 26 Jun 2026 21:04 WIB
Kabarmalam.com — Menapaki usia satu tahun, inisiatif Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah mulai memperlihatkan dampak nyata bagi anak-anak dari keluarga rentan. Program yang dirancang khusus untuk menjangkau mereka yang putus sekolah atau belum tersentuh bangku pendidikan ini, kini menjadi secercah harapan dalam upaya mengentaskan kemiskinan ekstrem di tanah air.
Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, mengungkapkan rasa syukurnya atas progres yang dicapai selama dua belas bulan terakhir. Meski mengakui bahwa langkah awal tidaklah mudah, ia menilai program ini telah berhasil memberikan transformasi signifikan, baik dari segi mental maupun fisik para peserta didik.
Transformasi Nyata Siswa Sekolah Rakyat
Dalam sebuah diskusi bertajuk “1 Tahun Sekolah Rakyat Menyalakan Harapan dan Masa Depan Bangsa” di Jakarta, Agus Jabo memaparkan keberhasilan program tersebut dengan indikator yang sangat manusiawi. Menurutnya, perubahan yang paling mencolok terlihat pada rasa percaya diri siswa yang meningkat pesat.
“Alhamdulillah, selama setahun ini pelaksanaan Sekolah Rakyat tergolong cukup berhasil. Kita bisa melihat anak-anak yang tadinya kurang percaya diri, kini tampil lebih berani. Bahkan dari sisi kesehatan, mereka yang dulu terlihat kurang gizi atau kurus, sekarang tampak lebih sehat dan berisi,” jelas Agus Jabo.
Ia menegaskan bahwa filosofi utama dari program ini adalah kehadiran negara bagi rakyatnya. Bagi keluarga yang tidak mampu secara finansial, negara memikul tanggung jawab penuh untuk menjamin hak pendidikan layak bagi anak-anak mereka. “Negara harus hadir untuk menyekolahkan mereka yang tidak mampu. Itulah esensi dari konsep Sekolah Rakyat,” tambahnya.
Memberdayakan Keluarga, Memutus Transmisi Kemiskinan
Salah satu keunikan Sekolah Rakyat adalah pendekatannya yang holistik. Program ini tidak hanya fokus pada kurikulum di dalam kelas, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan keluarga. Strategi ini diambil untuk memastikan bahwa rantai kemiskinan benar-benar terputus hingga ke akarnya.
“Kami tidak ingin anak tetap terjebak dalam kemiskinan hanya karena orang tuanya miskin. Sekolah Rakyat adalah jawaban negara untuk memutus transmisi kemiskinan tersebut. Di saat yang sama, kami juga memberdayakan orang tua siswa agar bisa mandiri secara ekonomi dan sejahtera,” tegas Wamensos.
Dukungan dari Legislatif dan Pakar Pendidikan
Keberhasilan awal ini memicu gelombang dukungan dari berbagai pihak. Anggota Komisi X DPR RI, Furtasan Ali Yusuf, menyatakan dukungan penuhnya agar program ini terus berlanjut dan terintegrasi dengan sistem pendidikan nasional secara lebih luas.
“Kami mendukung 100 persen. Ini adalah langkah konkret dari Bapak Presiden untuk membantu anak-anak yang tadinya tidak berani bermimpi, kini bisa mewujudkan cita-cita mereka,” ujar Furtasan.
Senada dengan hal tersebut, Konsultan Pendidikan dan Karier, Ina Liem, menyoroti aspek lingkungan tempat tinggal sebagai kunci keberhasilan program ini. Mengingat banyak anak dari keluarga miskin tinggal di lingkungan yang kurang kondusif untuk belajar, pola sekolah berasrama yang diterapkan menjadi solusi yang sangat efektif.
“Pendidikan idealnya dimulai dari rumah. Namun, bagi masyarakat miskin ekstrem, seringkali kondisi rumah tidak mendukung. Dengan sistem asrama, anak-anak mendapatkan pendampingan yang lebih teratur dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka,” pungkas Ina Liem.
Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan legislatif, dan pengawasan dari para ahli, Sekolah Rakyat diharapkan terus menjadi mercusuar bagi anak-anak Indonesia untuk meraih masa depan yang lebih cerah tanpa terhalang tembok ekonomi.