Sentilan Tajam Presiden Prabowo untuk Para Akademisi: 81 Tahun Merdeka, Kenapa Belum Bisa Bikin Mobil Sendiri?
Jumat, 26 Jun 2026 20:34 WIB
Kabarmalam.com — Di hadapan para cendekiawan dan kaum intelektual tanah air, Presiden Prabowo Subianto melontarkan sebuah keresahan mendalam mengenai wajah kemandirian bangsa yang dirasanya belum optimal. Dalam sebuah pidato yang bernada reflektif namun tegas, ia menyoroti ketergantungan Indonesia pada produk luar negeri, padahal negara ini memiliki sumber daya manusia yang mumpuni.
Momen ini terjadi saat Prabowo menghadiri Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang digelar di JCC, Senayan, Jakarta, pada Jumat (26/6/2026). Presiden mengungkapkan bahwa dirinya sengaja sering menyambangi berbagai kampus untuk berdiskusi dengan orang-orang paling cerdas di negeri ini guna mencari solusi atas tantangan strategis nasional.
Tantangan untuk Para Pemilik Gelar PhD
Prabowo menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan para pakar dari IPB dan universitas ternama lainnya. Satu pertanyaan besar selalu ia bawa: mengapa Indonesia masih terjebak dalam arus impor untuk kebutuhan dasar seperti gandum dan teknologi otomotif?
“Saudara-saudara, saya berkali-kali datang ke kampus karena saya ingin meminta pemikiran dari orang-orang terpintar. Saya tanya Profesor Sigit, saya tanya pakar-pakar di IPB, kenapa kita tidak bisa punya benih gandum sendiri? Mengapa kita harus terus mengandalkan gandum luar negeri?” ujar Prabowo dengan nada penuh tanya.
Tak berhenti di situ, ia juga membandingkan produktivitas kelapa sawit Indonesia yang secara statistik masih kalah dari negeri tetangga, Malaysia. Baginya, ketertinggalan ini adalah paradoks yang harus segera dipecahkan melalui inovasi nyata dari kalangan akademisi.
Sorotan Tajam pada Sektor Otomotif
Poin paling krusial dalam pidatonya adalah mengenai industri otomotif. Prabowo tampak gemas melihat realita pasar kendaraan bermotor di Indonesia yang begitu besar, namun belum dikuasai oleh merek lokal yang benar-benar mandiri.
“Kalian adalah para PhD, orang-orang terpintar. Saya bertanya di depan Anda sekalian, kita membeli 10 juta motor setiap tahunnya, tapi kenapa tidak ada pabrik motor buatan asli Indonesia? Kenapa setelah 81 tahun kita belum mampu memproduksi mobil sendiri?” tegasnya. Pertanyaan ini seolah menjadi tantangan terbuka bagi para peneliti untuk tidak hanya berhenti di tataran teori, tetapi juga bergerak ke arah industrialisasi.
Optimisme Menuju Mobil Nasional
Meski memberikan kritik yang membangun, Presiden Prabowo tetap memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada perguruan tinggi yang kini mulai menunjukkan langkah konkret dalam pengembangan kendaraan dalam negeri. Ia mengaku merasakan kebanggaan yang luar biasa saat bisa menggunakan produk karya anak bangsa dalam kegiatan kenegaraannya.
“Saya sampaikan terima kasih kepada kampus-kampus yang sudah mulai bergerak ke arah produksi mobil sendiri. Ada kepuasan batin yang sangat dalam saat saya dilantik, lalu pulang dengan menaiki mobil buatan Indonesia,” pungkasnya. Ia berharap momentum ini menjadi titik balik bagi Indonesia untuk benar-benar berdaulat secara ekonomi dan teknologi di masa depan.