JD Vance ‘Semprot’ Israel: Ingatkan Aliran Dana Pajak AS di Balik Sistem Pertahanan Tel Aviv
Jumat, 19 Jun 2026 09:34 WIB
Kabarmalam.com — Hubungan diplomatik antara Washington dan Tel Aviv kini berada di titik nadir setelah Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, melontarkan teguran yang sangat keras dan provokatif kepada jajaran menteri Israel. Ketegangan ini dipicu oleh kritik tajam para pejabat Israel terhadap nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang baru saja disepakati antara Amerika Serikat dan Iran.
Vance tidak lagi menggunakan bahasa diplomasi yang halus. Ia secara gamblang memperingatkan Tel Aviv bahwa Amerika Serikat adalah satu-satunya sekutu kuat yang tersisa bagi Israel di panggung global. Dalam pernyataan yang penuh emosi di Gedung Putih, ia menekankan bahwa kekuatan militer yang membentengi Israel saat ini sebagian besar merupakan kontribusi nyata dari warga Amerika.
Sentilan Keras Soal Bantuan Militer
Vance menggarisbawahi realitas ekonomi di balik sistem pertahanan Israel. Ia mengingatkan para pengkritik di kabinet Benjamin Netanyahu untuk segera “terbangun dan menyadari kenyataan.” Dengan nada bicara yang tegas, ia mengungkap fakta bahwa dalam tiga bulan terakhir, dua pertiga dari persenjataan yang melindungi wilayah Israel adalah hasil produksi tangan-tangan Amerika yang didanai langsung oleh uang pajak warga AS.
“Jika saya berada di dalam kabinet pemerintahan Israel, saya tidak akan menyerang satu-satunya sekutu terkuat yang saya miliki di seluruh dunia,” ujar Vance kepada wartawan pada Kamis (18/6/2026). Ia juga menambahkan bahwa Donald J. Trump saat ini adalah satu-satunya kepala negara adidaya yang masih memiliki simpati mendalam terhadap kedaulatan Israel.
Kontroversi MoU AS-Iran
Pangkal kemarahan Washington adalah penolakan keras sejumlah menteri Israel terhadap MoU yang ditandatangani pada Rabu (17/6). Kesepakatan tersebut mengatur gencatan senjata selama 60 hari dan pencabutan blokade ekonomi terhadap Iran. Langkah ini diambil agar Teheran dapat kembali berintegrasi dengan ekonomi global, dengan syarat memenuhi sejumlah komitmen ketat dalam kesepakatan tersebut.
Meskipun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sendiri memilih untuk tidak mengkritik kesepakatan tersebut secara langsung, beberapa menteri sayap kanan dalam kabinetnya justru bersikap agresif. Dalam wawancara eksklusif dengan New York Times, Vance secara spesifik menyebut nama Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich sebagai pihak yang dianggap memperkeruh suasana.
Kritik Terhadap Pendekatan Militeristik
Vance melontarkan kritik filosofis sekaligus praktis terhadap cara Israel menangani ancaman keamanan. Ia mempertanyakan proposal nyata dari pihak-pihak yang menentang jalan damai. Menurutnya, mengandalkan kekuatan militer secara terus-menerus bukanlah solusi jangka panjang yang berkelanjutan bagi negara dengan populasi sembilan juta jiwa tersebut.
“Anda tidak bisa hanya menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional Anda dengan cara membunuh,” tegas Vance. Pernyataan ini menandakan adanya pergeseran cara pandang di Gedung Putih dalam melihat dinamika konflik di Timur Tengah, di mana negosiasi mulai dikedepankan sebagai alternatif dari konfrontasi bersenjata yang tak berkesudahan.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Washington masih memanas, dengan para pendukung konservatif dan anggota parlemen dari Partai Republik juga mulai melancarkan kritik terhadap kebijakan luar negeri pemerintahan saat ini yang dianggap terlalu lunak terhadap Iran.