RDF Rorotan: Harapan Besar Pengolahan Sampah Jakarta yang Terjegal Infrastruktur
Kamis, 11 Jun 2026 21:04 WIB
Kabarmalam.com — Jakarta terus berpacu dengan waktu dalam mencari solusi jitu mengatasi masalah limbah perkotaan. Di tengah upaya tersebut, fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Rorotan, Jakarta Utara, muncul sebagai tumpuan baru. Namun, sebuah ironi terungkap saat Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta melakukan peninjauan lapangan: sebuah mesin canggih berkapasitas raksasa ternyata masih terhambat oleh masalah-masalah klasik di luar teknis pengolahan.
Ambisi Mengurangi Ketergantungan pada Bantargebang
Langkah Pemprov DKI Jakarta untuk lepas dari bayang-bayang TPST Bantargebang kini bertumpu pada optimalisasi RDF Rorotan. Fasilitas ini bukan sekadar proyek biasa, melainkan pilar utama dalam strategi pengelolaan sampah modern di ibu kota. Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, menegaskan bahwa kehadiran RDF Rorotan adalah bentuk komitmen legislatif dan eksekutif untuk menekan volume sampah yang dibuang ke Bekasi.
“Kami hadir di sini untuk memastikan roda transisi ini berjalan. RDF Rorotan adalah kunci agar kita tidak lagi terus-menerus bergantung pada Bantargebang,” ujar Judistira dalam keterangan resminya yang diterima tim redaksi pada Kamis (11/6/2026).
Mesin Mumpuni, Akses Terbelenggu
Dalam tinjauan tersebut, terungkap fakta menarik. Masalah utama RDF Rorotan bukan terletak pada teknologi ataupun mesin pengolahnya. Secara teknis, fasilitas ini memiliki tiga lini pengolahan dengan kapasitas masing-masing mencapai 800 ton per hari. Jika beroperasi penuh, RDF Rorotan mampu melahap hingga 2.400 ton sampah setiap harinya.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Masalah justru muncul dari sektor eksternal, yakni infrastruktur jalan. Akses menuju lokasi dinilai belum memadai untuk menampung lalu lintas armada pengangkut sampah yang datang dari berbagai penjuru Jakarta. Hal ini menyebabkan mobilitas truk terhambat dan pasokan sampah ke mesin tidak maksimal.
“Mesin kita siap, teknologinya mumpuni. Namun, apa gunanya jika logistiknya macet? Kami menemukan bahwa akses jalan di kawasan KBT yang menghubungkan Jakarta Timur dan Jakarta Utara perlu segera dibenahi,” tambah Judistira yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta tersebut.
Jeritan Warga dan Standar Armada
Selain urusan jalan, Pansus juga menangkap aspirasi masyarakat sekitar. Keberadaan truk sampah yang melintas menuju lokasi masih menyisakan keluhan aroma tak sedap. Warga menuntut agar Pemprov DKI Jakarta lebih selektif dalam menggunakan armada pengangkut.
Penggunaan truk tipe kompaktor yang tertutup rapat menjadi harga mati untuk menghindari kebocoran air lindi (cairan sampah) yang kerap berceceran di jalanan. Masyarakat merasa terganggu dengan armada-armada tua yang tidak lagi kedap bau. Kondisi ini menjadi catatan penting bagi Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan peremajaan unit secara bertahap.
Sinergi Menuju Jakarta Bersih
DPRD DKI berencana membawa temuan ini ke rapat kerja bersama Dinas Bina Marga untuk segera melakukan percepatan perbaikan jalan. Namun, Judistira mengingatkan bahwa Jakarta tidak bisa hanya mengandalkan satu pintu solusi.
Strategi besar Jakarta saat ini adalah mengintegrasikan berbagai instrumen pengelolaan sampah yang ada, mulai dari:
- Optimalisasi RDF Plant di Bantargebang
- Penguatan fungsi UPK Badan Air
- Pemberdayaan 61 unit TPS 3R di seluruh wilayah DKI
- Pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik
Dengan sinergi yang kuat antara kecanggihan teknologi dan kesiapan infrastruktur Jakarta, target mengolah 1.500 hingga 2.000 ton sampah per hari di RDF Rorotan diharapkan dapat tercapai dalam satu tahun ke depan. Jakarta sedang bertransformasi, dan RDF Rorotan adalah saksi bisu perjuangan tersebut.