Aliansi Abadi Pyongyang-Beijing: Xi Jinping dan Kim Jong Un Perkuat Barisan di Tengah Tekanan Global
Selasa, 09 Jun 2026 07:04 WIB
Kabarmalam.com — Langit Pyongyang bersolek menyambut tamu istimewa saat pesawat Air China mendarat di landasan pacu, membawa Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan yang sarat akan makna simbolis. Ini bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan sebuah pernyataan tegas tentang eksistensi poros Beijing-Pyongyang di tengah dinamika geopolitik dunia yang kian memanas.
Sambutan Hangat di Karpet Merah
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, bersama sang istri, Ri Sol-ju, menyambut langsung kedatangan Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan. Suasana akrab terasa kental saat kedua pemimpin negara tersebut berjabat tangan erat, diiringi sorak-sorai anak-anak yang menyodorkan buket bunga segar. Spanduk raksasa bertuliskan “Kami menyambut hangat Kamerad Xi Jinping” berkibar di antara bendera kedua negara, menandai kunjungan pertama Xi ke tanah Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir.
Kunjungan ini dilakukan di tengah kebuntuan negosiasi nuklir Korea Utara dengan Washington. Meski sebelumnya Xi sempat menjamu Donald Trump dan Vladimir Putin di Beijing, kehadirannya di Pyongyang menegaskan bahwa China tetap menjadi jangkar utama bagi stabilitas rezim Kim Jong Un.
Diplomasi di Tengah Kebuntuan Nuklir
Xi Jinping memuji apa yang ia sebut sebagai “persahabatan yang tak tergoyahkan.” Bagi China, Korea Utara adalah mitra strategis sekaligus benteng pertahanan geopolitik dalam persaingan panjangnya dengan Amerika Serikat. Meskipun Gedung Putih mengklaim adanya kesepahaman untuk melucuti senjata nuklir di Semenanjung Korea, suara dari dalam Pyongyang justru menunjukkan hal sebaliknya.
Kim Yo Jong, adik perempuan Kim Jong Un yang berpengaruh, telah menegaskan bahwa program persenjataan mereka adalah “garis tanpa jalan mundur.” Dalam konteks inilah, peran China menjadi krusial. Para analis dari Universitas Ewha Seoul menilai bahwa kunjungan Xi bukan sekadar seremonial, melainkan langkah terukur untuk memperkuat posisi tawarnya terhadap AS melalui kendali pengaruh di wilayah Asia Timur Laut.
Napas Ekonomi dalam Cengkeraman Beijing
Sulit membayangkan bagaimana Korea Utara bertahan tanpa dukungan Beijing. Data menunjukkan ketergantungan yang luar biasa, di mana China menguasai hingga 95% total perdagangan Pyongyang. Mulai dari pasokan minyak bumi, bahan pangan, hingga mesin industri, semuanya mengalir dari negeri tirai bambu tersebut. Tanpa aliran ini, roda ekonomi Korea Utara dipastikan akan lumpuh total.
Menariknya, di tengah sanksi internasional yang mencekik, Korea Utara masih mampu mengekspor produk-produk unik seperti rambut palsu dan wig. Industri ini menyumbang sekitar 40% dari total ekspor legal mereka karena tidak secara eksplisit dilarang oleh sanksi PBB. Namun, angka-angka legal tersebut hanyalah permukaan dari sebuah gunung es ekonomi yang jauh lebih besar dan gelap.
Ekonomi Bayangan dan Poros Baru dengan Moskow
Selain bergantung pada China, rezim Kim Jong Un dikenal cerdik dalam mengelola “shadow economy.” Ribuan pekerja dikirim ke luar negeri untuk bekerja di sektor konstruksi dan pabrik di Rusia serta China, yang hasilnya disita hampir seluruhnya oleh negara. Tak hanya itu, para peretas Korea Utara disebut-sebut sebagai salah satu yang paling berbahaya di dunia, dengan catatan pencurian kripto mencapai miliaran dolar untuk mendanai program senjata mereka.
Belakangan, hubungan Pyongyang dengan Moskow juga kian mesra. Dukungan militer berupa jutaan peluru artileri dan rudal untuk perang Rusia di Ukraina telah membuka keran bantuan ekonomi dan teknologi baru dari Kremlin. Namun, para ahli seperti Kwak Gil Sup dari One Korea Center mengingatkan bahwa Korea Utara tidak bisa hanya mengandalkan Rusia. Keselarasan dengan China tetap menjadi prioritas mutlak bagi kelangsungan hidup jangka panjang mereka.
Stabilitas di Atas Segalanya
Dalam pertemuan ini, Xi Jinping diprediksi tidak akan menekan Kim Jong Un terlalu keras soal denuklirisasi. Sebaliknya, China lebih memilih menjaga stabilitas kawasan agar tidak terjadi gejolak yang bisa memicu kehadiran militer AS lebih besar di perbatasannya. Beijing tampaknya mulai menerima kenyataan bahwa Korea Utara adalah negara berkekuatan nuklir, dan fokus utama mereka kini adalah memastikan negara tetangganya itu tetap stabil di bawah pengaruhnya.
Melalui paket bantuan ekonomi, mulai dari pupuk hingga pembukaan kembali jalur pariwisata, Xi Jinping kembali menegaskan peran China sebagai pelindung sekaligus pemegang kendali utama atas masa depan Semenanjung Korea.