Misteri Kelangkaan Solar di Sumbar Terkuak, Andre Rosiade: Kuota Melimpah, Masalahnya Ada di Oknum Nakal
Jumat, 05 Jun 2026 20:04 WIB
Kabarmalam.com — Persoalan antrean panjang dan sulitnya mendapatkan solar subsidi di Sumatra Barat (Sumbar) akhirnya menemui titik terang. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, melakukan langkah konkret dengan menelisik langsung jantung data penyaluran BBM di Kantor Sales Area Retail Pertamina Patra Niaga Sumbar, Kota Padang.
Hasilnya cukup mengejutkan sekaligus mematahkan anggapan publik selama ini. Andre menegaskan bahwa fenomena kelangkaan yang mencekik para sopir angkutan dan logistik di ranah Minang bukan disebabkan oleh minimnya pasokan dari pemerintah pusat, melainkan adanya ketimpangan di level distribusi lapangan.
Data Bicara: Suplai Justru Melampaui Batas Normal
Dalam kunjungannya pada Jumat (5/6/2026), Andre didampingi oleh Sales Area Manager (SAM) Retail Sumatra Barat PT Pertamina Patra Niaga, Fakhri Rizal Hasibuan. Keduanya memantau langsung pergerakan SPBU di seluruh wilayah Sumbar melalui integrasi sistem CCTV dan data digital secara real-time.
Berdasarkan bedah data yang dilakukan, terungkap bahwa kuota BBM subsidi untuk Sumatra Barat sebenarnya selalu mencukupi, bahkan cenderung berlebih. Andre memaparkan bahwa selama lima tahun terakhir, kuota tersebut konsisten bertambah setiap tahunnya.
“Tahun lalu kita dapat tambahan 15 persen, dan tahun ini penjualan sudah menembus angka 5 persen di atas kuota awal. Namun anehnya, kelangkaan tetap menghantui. Jadi, akar masalahnya jelas bukan pada kuantitas kuota,” ungkap Andre dengan nada tegas.
Merujuk pada catatan Pertamina, pada rentang 16-23 Mei 2026, penyaluran Biosolar JBT menyentuh angka 14.264 kiloliter. Jika dirata-rata, angka 1.788 kiloliter per hari tersebut setara dengan 118 persen dari kuota harian, atau terjadi over quota sebesar 18 persen. Tren serupa berlanjut pada periode berikutnya dengan angka penyaluran yang tetap stabil di atas 110 persen.
Korelasi Tambang Ilegal dan Kelangkaan Solar
Lantas, ke mana perginya ribuan kiloliter solar tersebut? Andre Rosiade mengendus adanya pola yang berulang dan sistematis. Menurutnya, kelangkaan solar di Sumbar memiliki kaitan erat dengan aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI).
“Ini bukan lagi sekadar dugaan, melainkan fakta lapangan yang terus berulang. Polanya terbaca jelas: setiap kali aktivitas tambang ilegal marak, solar langsung menghilang dari SPBU. Namun, begitu aparat turun tangan melakukan razia dan penindakan terhadap PETI, tiba-tiba solar kembali melimpah dan mudah didapat masyarakat,” jelas Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM) tersebut.
Fakta ini diperkuat oleh penjelasan Fakhri Rizal. Ia mengungkapkan bahwa setelah operasi gabungan dilakukan bersama pemerintah daerah dan penegak hukum pada Mei lalu, konsumsi solar harian langsung anjlok drastis dari 1.800 kiloliter menjadi hanya sekitar 1.100 hingga 1.200 kiloliter per hari. Penurunan ini mengindikasikan adanya kebocoran distribusi yang selama ini terserap oleh sektor-sektor non-subsidi secara ilegal.
Komitmen Pengawasan di Garda Terdepan
Menyikapi temuan tersebut, Andre Rosiade mendesak agar Pertamina tidak hanya terpaku pada rapat-rapat koordinasi di balik meja. Ia meminta adanya penguatan pengawasan di lapangan, khususnya untuk memutus mata rantai kendaraan yang diduga melakukan praktik pelangsiran BBM.
“Tujuan saya sederhana namun mendasar: masyarakat yang memang berhak harus mendapatkan haknya atas subsidi negara. Jangan sampai subsidi yang ditujukan untuk rakyat kecil justru dinikmati oleh oknum-oknum yang merugikan pembangunan di Sumatra Barat,” tutup Andre.
Kini bola panas ada di tangan aparat penegak hukum dan pihak pengawas untuk memastikan bahwa setiap tetes solar subsidi benar-benar mengalir ke tangki kendaraan masyarakat yang membutuhkan, bukan ke mesin-mesin tambang ilegal yang merusak lingkungan.