Hati-Hati Gejala Neuropati! Pakar Saraf Ingatkan Bahaya Konsumsi Suplemen Berlebihan
Senin, 01 Jun 2026 05:34 WIB
Kabarmalam.com — Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan oleh aksi seorang influencer yang menenggak hingga 11 jenis suplemen dalam satu kali waktu. Fenomena ini memicu gelombang pertanyaan di kalangan netizen: apakah mengonsumsi segudang vitamin secara bersamaan benar-benar aman bagi tubuh, ataukah justru menjadi bom waktu bagi kesehatan?
Menanggapi tren yang meresahkan tersebut, neurolog ternama Prof. Dr. Rizaldy Taslim Pinzon memberikan peringatan keras. Menurutnya, penggunaan suplemen tidak boleh dilakukan secara serampangan karena kebutuhan nutrisi setiap individu bersifat sangat personal. Fokus utama bukan hanya pada seberapa banyak kapsul yang ditelan, melainkan pada kandungan, kecukupan dosis, serta risiko tumpang tindih zat gizi antarproduk yang dikonsumsi.
Ancaman Tersembunyi di Balik Vitamin B6
Salah satu sorotan utama dalam isu keamanan ini adalah penggunaan Vitamin B6. Meski zat ini krusial untuk kesehatan saraf, metabolisme, dan daya tahan tubuh, kelebihan dosis dapat berakibat fatal. Prof. Rizaldy mencatat bahwa meskipun kasus neuropati perifer akibat kelebihan Vitamin B6 terbilang jarang, tren mengonsumsi multivitamin yang saling bertumpuk meningkatkan risiko ini secara signifikan.
“Para neurolog mengamati adanya peningkatan kesadaran masyarakat terkait dosis penggunaan, terutama pada mereka yang terbiasa mengonsumsi lebih dari satu jenis suplemen secara bersamaan,” ungkapnya. Gangguan yang dikenal sebagai neuropati perifer ini menyerang saraf tepi dengan gejala awal berupa kesemutan, rasa baal, hingga mati rasa yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kapan Suplemen Benar-Benar Dibutuhkan?
Secara medis, tubuh orang dewasa sebenarnya hanya memerlukan Vitamin B6 sekitar 1,3 hingga 2 miligram per hari. Angka ini biasanya sudah terpenuhi melalui pola makan sehat yang mencakup konsumsi ikan, daging unggas, telur, pisang, hingga kacang-kacangan. Namun, ada kondisi khusus di mana asupan tambahan menjadi krusial.
- Ibu hamil dan menyusui yang membutuhkan nutrisi ekstra.
- Lansia dengan kemampuan penyerapan nutrisi yang menurun.
- Penderita penyakit kronis seperti diabetes atau gangguan ginjal.
- Individu yang sedang menjalani pengobatan jangka panjang tertentu.
“Pendekatan yang bijak bukanlah memusuhi suplemen, melainkan memastikan penggunaannya berbasis ilmu pengetahuan dan sesuai dengan kebutuhan rill tubuh,” tegas Prof. Rizaldy.
Bukan Pengganti Makanan Utama
Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Zullies Ikawati, menekankan bahwa tidak ada angka pasti mengenai batas jumlah suplemen harian. Kuncinya terletak pada pemahaman terhadap isi produk dan kondisi tubuh masing-masing. Ia mengingatkan bahwa dosis suplemen harus dipantau ketat agar tidak terjadi akumulasi zat yang tidak perlu.
“Suplemen itu sifatnya hanya pelengkap atau tambahan, bukan pengganti makanan bergizi seimbang. Gunakanlah ketika tubuh memang benar-benar mengalami kekurangan,” jelas Prof. Zullies. Ia juga memperingatkan masyarakat untuk lebih teliti membaca label produk guna menghindari risiko overdosis akibat kandungan zat yang sama pada merek suplemen yang berbeda.
Dengan maraknya tren gaya hidup instan di media sosial, para ahli sepakat bahwa konsultasi medis tetap menjadi langkah paling aman sebelum memutuskan untuk mengonsumsi berbagai suplemen dalam jangka panjang.