Kepergian Ryamizard Ryacudu: Warisan Jenderal Humanis dan Pesan ‘Baik-baik dengan Rakyat’
Minggu, 31 Mei 2026 23:04 WIB
Kabarmalam.com — Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya di bidang militer dan pertahanan. Mantan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, telah berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan jejak mendalam sebagai sosok prajurit sejati yang tak hanya dikenal karena ketegasannya, tetapi juga kedekatannya yang tulus dengan rakyat.
Sosok Jenderal yang Membawa TNI Kembali ke Barak
Suasana duka menyelimuti kediaman almarhum di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Salah satu tokoh yang hadir memberikan penghormatan terakhir adalah Kepala Staf Presiden (KSP) Dudung Abdurachman. Bagi Dudung, Ryamizard adalah mentor sekaligus teladan dalam profesionalisme militer. Ia mengenang bagaimana Ryamizard sangat vokal menekankan agar TNI kembali ke barak dan fokus pada tugas pokoknya sebagai pelindung kedaulatan.
“Beliau adalah prajurit tulen, pejuang yang tidak pernah menyerah dalam mengembangkan organisasi. Beliau ingin setiap prajurit menjadi profesional di bidangnya masing-masing,” kenang Dudung dengan nada bicara yang penuh haru. Kedekatan emosional antara keduanya terlihat jelas saat Dudung menceritakan momen-momen terakhirnya menjenguk almarhum di rumah sakit.
Filosofi Humanis dalam Palagan Aceh
Salah satu warisan pemikiran Ryamizard yang paling membekas bagi Dudung adalah saat ia bertugas sebagai Komandan Batalyon di Aceh di bawah kepemimpinan almarhum yang kala itu menjabat sebagai KSAD. Di tengah konflik yang memanas, Ryamizard memberikan pesan yang sangat manusiawi: masyarakat Aceh bukanlah musuh.
“Pendekatannya harus manusiawi. Jangan ada keinginan untuk membunuh. Pesan itu yang selalu saya pegang teguh,” ungkap Dudung. Menurutnya, Ryamizard selalu menggemakan satu kalimat sederhana namun bermakna dalam: ‘baik-baik dengan rakyat’. Sebuah doktrin yang mengingatkan bahwa kekuatan militer berasal dari, oleh, dan untuk rakyat.
Persahabatan Enam Dekade dan Sapaan Akrab ‘Mijar’
Kenangan hangat juga datang dari Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO). OSO yang sudah mengenal Ryamizard selama hampir 60 tahun memiliki panggilan akrab tersendiri, yaitu ‘Mijar’. Baginya, keberanian Ryamizard sudah terlihat sejak masa muda, bahkan sebelum ia resmi berseragam militer.
“Saya kaget sekali mendengar kabar ini karena baru saja tiba dari Kalimantan. Beliau itu pemberani sejak muda, saya sudah mengenalnya puluhan tahun,” ujar OSO saat melayat. Persahabatan panjang ini menunjukkan sisi personal Ryamizard yang setia kawan dan konsisten dengan karakternya yang teguh.
Cerdas Mengelola Pertahanan di Tengah Keterbatasan
Tak hanya di medan tempur dan diplomasi rakyat, Ryamizard juga dikenal sebagai pengelola sumber daya yang mumpuni. Eks KSAL Ade Supandi menyoroti kecerdasan almarhum dalam menavigasi anggaran pertahanan negara yang terbatas. Menurut Ade, Ryamizard mampu mengoptimalkan kegiatan strategis pertahanan dengan sangat efisien.
“Beliau sangat mumpuni dalam mengatur pengelolaan pembiayaan untuk pertahanan negara. Seorang senior yang sangat mengayomi adik-adiknya dan cerdas dalam melihat prioritas,” pungkas Ade Supandi.
Jenazah almarhum direncanakan akan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa-jasanya kepada Ibu Pertiwi. Selamat jalan, Jenderal. Pesanmu untuk selalu ‘baik-baik dengan rakyat’ akan terus abadi di hati sanubari para prajurit.