Ikuti Kami
kabarmalam.com

Gema Perang di Perbatasan: Militer Israel Klaim Rebut Kembali Kastil Beaufort di Lebanon Selatan

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 31 Mei 2026 16:33 WIB
Gema Perang di Perbatasan: Militer Israel Klaim Rebut Kembali Kastil Beaufort di Lebanon Selatan

Kabarmalam.com — Kabut asap peperangan kembali menyelimuti kawasan Nabatieh, Lebanon Selatan, setelah militer Israel mengklaim telah berhasil menguasai titik strategis bersejarah, Kastil Beaufort (Qalaat al-Shaqif). Bendera Israel kini dilaporkan berkibar di atas reruntuhan benteng abad pertengahan tersebut, sebuah simbol yang menandai eskalasi serius dalam konflik yang terus membara di wilayah perbatasan.

Simbol Strategis di Puncak Bukit

Berdasarkan laporan yang dihimpun oleh tim redaksi Kabarmalam.com dari berbagai sumber lapangan termasuk AFP dan Aljazeera pada Minggu (31/5/2026), situasi di sekitar kastil sangat mencekam. Suara dentuman artileri terdengar bersahutan, mengiringi kepulan asap yang membumbung tinggi dari area perbukitan. Bagi militer Israel, menduduki Kastil Beaufort bukan sekadar soal kemenangan teritorial, melainkan sebuah pencapaian taktis yang signifikan mengingat posisi benteng peninggalan Perang Salib ini berada di ketinggian yang memantau langsung wilayah Galilea.

Baca Juga  Rahasia Medis Netanyahu Terungkap: Sempat Berjuang Melawan Tumor Ganas Usai Operasi Prostat

Kastil yang terletak sekitar 15 kilometer dari garis perbatasan itu merupakan situs warisan dunia yang dilindungi UNESCO. Sejarah mencatat, lokasi ini pernah menjadi basis pertahanan Israel selama hampir dua dekade sebelum mereka memutuskan untuk menarik diri pada tahun 2000 silam. Kini, setelah pertempuran sengit melawan kelompok Hizbullah yang meletus sejak awal Maret, pasukan infanteri Israel kembali menginjakkan kaki di sana.

Pernyataan Tegas Menteri Pertahanan Israel

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi keberhasilan operasi darat tersebut melalui sebuah pernyataan resmi yang cukup provokatif. Ia menyebutkan bahwa kembalinya pasukan Israel ke puncak Beaufort adalah momen bersejarah, terutama dalam rangka memperingati para prajurit yang gugur dalam Perang Lebanon Pertama puluhan tahun silam.

Baca Juga  Horor di Beirut: Kesaksian Pilu Tenaga Medis Hadapi 'Hujan Bom' Israel yang Menyasar Bayi

“Di bawah arahan langsung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pasukan IDF terus memperluas jangkauan operasi darat di Lebanon. Kami telah menyeberangi Sungai Litani dan mengamankan Punggungan Beaufort. Ini adalah titik kunci untuk menjamin keamanan komunitas kami di Galilea,” tegas Katz melalui kanal media sosial resminya. Langkah ini semakin menegaskan ambisi Israel untuk menciptakan zona penyangga yang lebih luas di wilayah Lebanon Selatan.

Kebijakan Bumi Hangus dan Ancaman Kemanusiaan

Di sisi lain, Pemerintah Lebanon tidak tinggal diam melihat wilayah kedaulatannya terus digempur. Perdana Menteri Lebanon mengecam keras aksi tersebut dan melabeli operasi militer Israel sebagai kebijakan “bumi hangus” yang menghancurkan infrastruktur serta situs bersejarah tanpa pandang bulu. Hingga saat ini, otoritas resmi Lebanon masih menahan diri untuk memberikan komentar mendalam terkait jatuhnya kastil tersebut ke tangan lawan.

Baca Juga  Ahmad Luthfi Instruksikan Bank Jateng Prioritaskan KUR Demi Hidupkan Ekonomi Kerakyatan

Seiring dengan jatuhnya Beaufort, militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran bagi warga sipil yang bermukim di selatan Sungai Zahrani hingga utara Litani. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, memberikan peringatan keras bahwa siapa pun yang berada di dekat fasilitas atau sarana tempur Hizbullah berada dalam bahaya maut.

Situasi di lapangan menunjukkan bahwa konflik Israel-Lebanon kali ini berpotensi berlangsung lebih lama dan lebih merusak. Dengan dikuasainya Beaufort, peta kekuatan di Lebanon Selatan dipastikan akan berubah drastis, memicu kekhawatiran internasional akan krisis kemanusiaan yang lebih dalam di kawasan Timur Tengah.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul