Horor di Beirut: Kesaksian Pilu Tenaga Medis Hadapi ‘Hujan Bom’ Israel yang Menyasar Bayi
Jumat, 10 Apr 2026 11:08 WIB
Kabarmalam.com — Langit Beirut yang biasanya tenang kini berubah menjadi kanvas kelam yang dipenuhi asap dan debu. Di balik hiruk-pikuk sirene yang memekakkan telinga, ratusan warga yang dirundung ketakutan tampak memadati lorong-lorong Rumah Sakit American University of Beirut (AUB). Mereka tidak hanya membawa luka fisik, tetapi juga membawa potongan harapan yang tersisa di tengah ketidakpastian antara hidup dan mati.
Hanya dalam waktu singkat, sekitar sepuluh menit, lebih dari seratus titik di ibu kota Lebanon dihantam serangan udara masif. Ledakan beruntun itu seketika mengubah wajah fasilitas medis menjadi pusat penderitaan manusia. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, tragedi ini telah merenggut sedikitnya 303 nyawa, sementara lebih dari 1.150 orang lainnya terpaksa berjuang melawan rasa sakit akibat luka-luka yang diderita.
Jeritan di Ruang ICU: Bayi dalam Pusaran Konflik
Pemandangan di dalam rumah sakit jauh lebih memilukan daripada apa yang tertangkap kamera. Dr. Salah Zeineldine, Kepala Medis RS AUB, mengisahkan bagaimana fasilitasnya dibanjiri 76 korban luka berat hanya dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Yang paling menyayat hati, mayoritas pasien kritis adalah mereka yang belum mengerti apa itu perang.
“Banyak dari pasien dalam kondisi kritis adalah anak-anak. Pasien tertua yang kami tangani di unit gawat darurat berusia 12 tahun, namun yang paling tragis adalah dua bayi yang kini terbaring di ICU; satu baru berusia beberapa bulan, dan satunya lagi bahkan baru berusia beberapa minggu,” tutur Dr. Zeineldine dengan nada getir.
Luka yang mereka derita bukan sekadar lecet ringan. Akibat bangunan yang runtuh dihantam rudal, para korban mengalami patah tulang kompleks dan trauma kepala berat. Meskipun klaim resmi menyebutkan bahwa target operasi adalah kelompok Hizbullah, fakta di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Dr. Zeineldine menegaskan bahwa korban sipil yang mereka tangani berasal dari seluruh lapisan masyarakat—mulai dari wanita, lansia, hingga balita.
Sistem Kesehatan Lebanon di Titik Nadir
Tragedi ini terjadi saat Lebanon sedang berada di titik terendahnya. Sejak krisis ekonomi menghantam pada 2019, sistem kesehatan negara ini sudah berada di ambang kolaps. Kini, beban perang semakin mempercepat kehancuran tersebut. Beberapa kendala krusial yang dihadapi meliputi:
- Kelangkaan Obat-obatan: Jalur logistik yang terputus membuat stok obat esensial semakin menipis setiap jamnya.
- Krisis Energi: Tanpa pasokan listrik yang stabil, rumah sakit sepenuhnya bergantung pada generator, di tengah harga bahan bakar yang meroket tajam.
- Kapasitas Medis: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan peringatan keras bahwa stok peralatan trauma darurat di berbagai rumah sakit bisa habis total dalam hitungan hari jika intensitas konflik tidak segera menurun.
Dr. Antoine Zoghbi, Presiden Palang Merah Lebanon, menggambarkan situasi ini sebagai “perang tanpa aturan”. Menurutnya, serangan yang terjadi secara simultan di berbagai wilayah bertujuan untuk menciptakan kepanikan dan rasa sakit yang mendalam bagi seluruh penduduk.
Solidaritas di Tengah Keputusasaan
Meski berada di bawah bayang-bayang kehancuran, api kemanusiaan belum padam. Ribuan warga lokal hingga ekspatriat terlihat mengantre panjang untuk mendonorkan darah mereka setelah panggilan darurat disebarkan melalui media sosial. Namun, bagi para tenaga medis yang berdiri di garis depan, bantuan medis dan donasi hanyalah solusi sementara.
Dr. Zeineldine menegaskan bahwa tidak ada jumlah obat atau kantong darah yang cukup untuk menambal luka sebuah bangsa selama mesin perang terus menderu. Baginya, hanya ada satu resep untuk menyelamatkan nyawa yang tersisa: penghentian kekerasan secara total dan segera.