Gema Kedamaian Waisak 2570 BE di Wihara Ekayana Arama: Ribuan Umat Larut dalam Keheningan
Minggu, 31 Mei 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Suasana religius nan syahdu menyelimuti kawasan Jakarta Barat saat ribuan umat Buddha berkumpul di Wihara Ekayana Arama untuk merayakan Hari Raya Waisak 2570 BE pada Minggu (31/5/2026). Sejak pagi hari, rumah ibadah ini telah dipadati oleh jemaat yang datang dengan satu tujuan: meresapi makna Trisuci Waisak dalam balutan kerukunan dan kedamaian.
Berdasarkan pantauan langsung tim di lapangan, kemeriahan ritual keagamaan ini tidak hanya dihadiri oleh umat setempat, tetapi juga dipantau langsung oleh sejumlah tokoh penting negara. Diperkirakan lebih dari 10.000 umat Buddha memadati area wihara untuk mengikuti rangkaian prosesi Waisak yang sakral dan penuh khidmat.
Rangkaian Ritual dari Pindapata hingga Puja Bakti
Rangkaian acara dimulai sejak matahari baru saja menampakkan diri. Febrian, selaku Pengurus Dewan Pembina Panitia Waisak Wihara Ekayana Arama, menjelaskan bahwa agenda hari itu dibuka dengan prosesi Pindapata pada pukul 07.15 WIB. Ritual ini merupakan tradisi pemberian persembahan makanan kepada para biksu sebagai wujud bakti umat.
“Setelah Pindapata, kami melanjutkan dengan Puja Bakti Waisak hingga menjelang siang. Pesan utama Waisak tahun ini disampaikan langsung oleh Bhante Dharmavimala Mahathera, yang juga merupakan sosok wakil kepala sekaligus pendiri Wihara Ekayana Arama,” ujar Febrian saat berbincang dengan tim kami di lokasi.
Tak hanya ritual formal, semangat sukarelawan juga tampak menonjol. Para panitia terlihat sibuk melakukan pelimpahan jasa sebagai bentuk rasa syukur atas kesempatan melayani sesama. Bagi mereka, hari raya Waisak adalah momen untuk berbagi kebahagiaan dari pagi hingga petang melalui pelayanan yang tulus.
Detik-Detik Waisak: Menemukan Kedamaian dalam Keheningan
Puncak dari perayaan ini terjadi pada pukul 15.45 WIB, saat memasuki momen detik-detik Waisak. Dalam fase ini, keramaian wihara seketika berubah menjadi keheningan yang total. Umat diajak untuk melakukan meditasi dan merenungi nilai-nilai Dharma dalam diam, sebuah praktik yang bertujuan untuk membawa kedamaian batin.
“Momen detik-detik Waisak adalah saat bagi kita semua untuk tenang dan meresapi ajaran Sang Buddha. Ini adalah waktu untuk melatih kesadaran penuh atau mindfulness, agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih sadar dalam menjalani kehidupan. Kondisinya dibuat sangat hening, seperti saat bermeditasi,” tambah Febrian menjelaskan esensi dari ritual tersebut.
Pesan Damai dari Tokoh Bangsa
Kehadiran Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri, dan Pangdam Jaya Letjen Deddy Suryadi menambah bobot kekhidmatan acara tersebut. Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap antusiasme umat dan menekankan pentingnya ajaran ‘eling’ atau kesadaran dalam menciptakan perdamaian masyarakat.
- Menteri Agama Nasaruddin Umar: Menyoroti bahwa kesadaran diri akan membawa kedamaian bagi individu, yang nantinya berdampak positif bagi kerukunan bangsa dan negara.
- Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri: Menyampaikan pesan humanis tentang kasih yang universal, mengibaratkan kasih seperti cahaya yang menyinari tanpa pernah memilih siapa yang layak diteranginya.
- Pangdam Jaya Letjen Deddy Suryadi: Menekankan konsep harmoni, di mana perbedaan latar belakang ibarat pelita dengan cahaya berbeda yang bersatu untuk menerangi jalan yang sama.
Perayaan di Wihara Ekayana Arama tahun ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman dan spiritualitas dapat berjalan beriringan, menciptakan atmosfer yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Melalui momen Waisak ini, diharapkan setiap individu dapat menjadi pelita bagi sesama dan membawa perubahan positif bagi Indonesia.