Ikuti Kami
kabarmalam.com

Misteri ‘Don’t Trust a Fart’ Terungkap: Mengapa Pelari Sering Kentut dan Kembung Saat Race?

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 30 Mei 2026 15:34 WIB
Misteri 'Don't Trust a Fart' Terungkap: Mengapa Pelari Sering Kentut dan Kembung Saat Race?

Kabarmalam.com — Pernahkah Anda sedang asyik memacu kecepatan di lintasan lari, lalu tiba-tiba perut terasa melilit dan dorongan untuk membuang angin muncul tak tertahankan? Bagi komunitas pencinta olahraga lari, fenomena ini bukanlah hal asing. Muncul sebuah jargon populer bernada peringatan di kalangan mereka: ‘Don’t trust a fart’. Sebuah candaan satir yang mengingatkan agar jangan sembarangan melepaskan kentut saat sedang berlari, karena khawatir ada ‘bonus’ yang tak diinginkan ikut keluar.

Penjelasan Medis di Balik Guncangan Perut

Lantas, mengapa tubuh kita seolah menjadi ‘pabrik gas’ mendadak saat sedang berpacu dengan waktu di lintasan maraton? Kabarmalam.com merangkum penjelasan medis dari Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi FKUI, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH. Menurutnya, kondisi ini berkaitan erat dengan mekanisme peristaltik usus.

Baca Juga  Tips Menikmati Hidangan Idul Adha Tanpa Kalap: Begini Saran Ahli Medis Agar Tetap Sehat

Peristaltik adalah gerakan kontraksi dan relaksasi otot usus secara otomatis yang menggerakkan makanan di sepanjang saluran pencernaan. Saat seseorang berlari, terjadi guncangan fisik yang konstan pada area perut. Guncangan inilah yang memicu usus menjadi lebih sensitif dan aktif bergerak.

Peran Adrenalin dan Fenomena Aerofagia

Selain faktor fisik berupa guncangan, aspek hormonal juga memegang peranan penting. Ketika kita mengikuti sebuah lomba atau running race, hormon stres adrenalin akan meningkat secara signifikan. Peningkatan adrenalin ini ternyata merangsang motilitas atau pergerakan usus, sehingga rasa ingin buang air besar atau kentut menjadi lebih sering muncul.

Ada pula kondisi yang disebut dengan aerofagia. “Ini adalah kondisi di mana seseorang tanpa sadar menelan udara secara berlebihan saat bernapas dengan intensitas tinggi,” ungkap Prof. Ari. Udara yang tertelan ini akan masuk dari mulut menuju usus, menciptakan penumpukan gas yang menyebabkan perut terasa kembung dan akhirnya memicu frekuensi kentut yang meningkat saat berlari.

Baca Juga  Misteri Tubuh 'Lupa' Cara Jalan: Kisah Haru Astronot Artemis II dan Dampak Ngeri Luar Angkasa

Tips Mencegah ‘Bencana’ Pencernaan di Lintasan

Agar performa Anda tidak terganggu oleh masalah kesehatan pencernaan, ada beberapa langkah preventif yang bisa dilakukan. Prof. Ari menyarankan para pelari untuk lebih selektif dalam memilih asupan sebelum mulai berlari.

  • Hindari Minuman Berkarbonasi: Soda hanya akan menambah cadangan gas di dalam perut Anda.
  • Perhatikan Kecepatan Makan: Makan terlalu terburu-buru sebelum perlombaan dapat meningkatkan risiko udara yang tertelan (aerofagia).
  • Batasi Sayuran Pemicu Gas: Meskipun sehat, sayuran seperti kol, sawi, dan brokoli sebaiknya dihindari beberapa waktu sebelum memulai lari karena sifatnya yang memicu produksi gas di usus.

Namun, Prof. Ari juga memberikan catatan bahwa sensitivitas pencernaan setiap orang berbeda-beda. Bagi mereka yang memiliki saluran pencernaan yang ‘tangguh’ dan tidak mudah kembung, konsumsi makanan tersebut mungkin tidak akan menimbulkan masalah besar. Namun, bagi pelari pemula, menjaga pola makan sebelum race day adalah kunci utama untuk menghindari momen memalukan di tengah jalur lari.

Baca Juga  Klarifikasi RS Muhammadiyah Sumut Terkait Kasus Operasi Rahim: Prosedur Diklaim Sudah Sesuai Persetujuan
Tentang Penulis
Wahid
Wahid