Misteri Tubuh ‘Lupa’ Cara Jalan: Kisah Haru Astronot Artemis II dan Dampak Ngeri Luar Angkasa
Senin, 20 Apr 2026 15:35 WIB
Kabarmalam.com — Menjelajahi cakrawala luas di luar atmosfer Bumi mungkin terdengar seperti mimpi romantis bagi banyak orang. Namun, realitas yang dihadapi para penjelajah antariksa saat kembali ke dekapan gravitasi ternyata jauh dari kata mudah. Fenomena ini baru saja dibuktikan oleh Christina Hammock Koch, salah satu astronot dalam misi prestisius Artemis II.
Setelah sepuluh hari mengorbit di ruang hampa, Koch membagikan momen emosional sekaligus mengejutkan melalui media sosialnya. Ia terlihat harus ‘belajar berjalan’ kembali. Dalam rekaman tersebut, Koch tampak berjuang keras untuk sekadar berdiri tegak. Langkah kakinya goyah, seolah-olah Bumi adalah daratan asing yang belum pernah ia injak sebelumnya. Meski sudah seminggu mendarat, otaknya masih bergelut hebat untuk menentukan arah dan menjaga keseimbangan.
Sinyal Tubuh yang Terputus di Ruang Hampa
“Saat manusia hidup dalam kondisi mikrogravitasi, sistem dalam tubuh kita yang bertugas memberi tahu otak bagaimana kita bergerak—yaitu organ vestibular—berhenti bekerja dengan semestinya,” ungkap Koch dengan nada reflektif. Menurutnya, otak dipaksa untuk mengabaikan sinyal-sinyal keseimbangan tersebut selama di luar angkasa.
Akibatnya, ketika kembali ke Bumi, para penjelajah ini menjadi sangat bergantung pada penglihatan untuk mengorientasikan diri. Proses rehabilitasi yang dijalani Koch bukan sekadar latihan fisik biasa, melainkan upaya medis untuk menyembuhkan kondisi neuro-vestibular, vertigo, hingga efek serupa gegar otak yang kerap menghantui para kru luar angkasa.
Anatomi yang Berubah: Apa yang Terjadi pada Tubuh Manusia?
Transformasi tubuh manusia di luar angkasa adalah harga mahal yang harus dibayar demi ilmu pengetahuan. Berdasarkan pantauan tim Kabarmalam.com, berikut adalah deretan perubahan ekstrem yang dialami tubuh saat berada di orbit:
- Kekacauan Navigasi Internal: Tanpa tarikan gravitasi, otak mengalami disorientasi total. Gejala ‘mabuk ruang angkasa’ membuat tugas-tugas sederhana menjadi tantangan luar biasa. Pasca-pendaratan, banyak astronot yang kesulitan hanya untuk memutar tubuh atau menjaga pandangan tetap stabil.
- Ancaman SANS pada Penglihatan: Misi jangka panjang berisiko memicu Spaceflight Associated Neuro-ocular Syndrome (SANS). Kondisi ini menyebabkan pembengkakan saraf optik dan perataan bola mata yang bisa mengganggu penglihatan secara permanen.
- Penyusutan Otot dan Tulang yang Rapuh: Karena tidak perlu melawan gravitasi untuk bergerak, otot kaki dan punggung perlahan menyusut. Lebih ngeri lagi, kepadatan tulang menurun drastis karena mineral tulang berpindah ke sistem tubuh lain, yang sering kali berujung pada risiko batu ginjal akibat lonjakan kalsium dalam urine.
- Jantung yang Mengecil: Tanpa tekanan gravitasi yang berat, jantung tidak perlu memompa darah sekuat di Bumi. Lambat laun, ukuran dan kebugaran jantung bisa menurun, membuat sistem kardiovaskular bekerja ekstra keras saat kembali ke Bumi.
- Paparan Radiasi Mematikan: Di luar pelindung atmosfer Bumi, astronot terpapar radiasi hingga 100 kali lebih tinggi. Risiko kanker, penyakit degeneratif, hingga gangguan sistem saraf pusat menjadi ancaman nyata yang membayangi seumur hidup mereka.
Lebih dari Sekadar Fisik
Tak hanya fisik, sisi kognitif pun dipertaruhkan. Lingkungan yang sempit, tekanan kerja tinggi, serta hilangnya siklus siang-malam yang normal dapat menguras kesehatan mental para kru. Peneliti terus berpacu dengan waktu untuk menemukan cara menjaga fungsi otak agar tetap tajam selama misi berlangsung.
Kisah Christina Koch adalah pengingat bahwa setiap jengkal kemajuan dalam teknologi luar angkasa dibayar dengan ketangguhan fisik dan mental yang luar biasa. Meski harus tertatih saat kembali, semangat para penjelajah ini tetap berdiri tegak demi membawa umat manusia melangkah lebih jauh ke bintang-bintang.